7 September 2022
|
6 Min Read
|
Apakah kamu sadar bahwa snack kesukaan kamu semakin mengecil? Hal tersebut adalah fenomena shrinkflation yang merupakan penyusutan kuantitas produk, kenapa bisa terjadi? Yuk simak artikel ini ya.
Kamu sadar ga kalau makanan kemasan seperti cemilan kesukaan kita semakin mengecil setiap tahunnya? Namun, harga cemilan tersebut masih sama aja. Kenapa bisa demikian? Kalau kamu belum mengetahuinya, hal yang dimaksud adalah shrinkflation.
Shrinkflation adalah sebuah strategi pemasaran dengan mengecilkan kuantitas produk dan menetapkan harga atau menaikan sedikit.
Penyebab perusahaan mengurangi ukuran volume produk adalah untuk mengendalikan biaya produksi. Dikarenakan semakin meningkatnya harga bahan dan manufaktur namun, tetap berusaha dapat menjual produk dengan harga normal.
Nah, di artikel ini akan dibahas secara jelas mengenai contoh shrinkflation pada produk cemilan kesukaan kamu. Yuk scroll lebih lanjut ya.
Apa itu Shrinkflation? Dalam ilmu ekonomi definisi shrinkflation adalah merupakan taktik umum yang dilakukan perusahaan makanan dan minuman. Istilah ini ditemukan pada tahun 2009 oleh ekonom Inggris, Pippa Malmgren.
Secara umum, shrinkflation adalah strategi bisnis pada perusahaan dengan melakukan penyusutan kuantitas produk yang akan dipasarkan.
Kata shrinkflation berasal dari shrink inflation yang merupakan kata shrink dalam bahasa Inggris yang artinya penyusutan, kata -flation sendiri diambil dari kata inflation yang dalam bahasa Indonesia sendiri adalah inflasi. Secara umum, inflasi adalah keadaan ekonomi pada negara di mana ada kecenderungan kenaikan produk atau jasa dalam jangka waktu yang panjang.
Selain itu juga shrinkflation dikenal sebagai grocery shrink ray, package downsizing atau deflasi. Praktik shrinkflation ini merupakan inflasi tersembunyi di mana membuat perusahaan mampu meningkatkan marjin operasional dan profitabilitasnya dengan menurunkan biaya produksi dan dapat mempertahankan jumlah penjualan.
Pandemi covid-19 memicu lonjakan inflasi dan melanda berbagai negara di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, saat ini besarnya inflasi sekitar 4.9% year on year per Juli 2022. Telinga kita pasti semakin sering mendengar berita-berita banyaknya kenaikan harga barang dimulai dari sembako seperti minyak goreng, telur, hingga kenaikan BBM.
Terjadinya inflasi tinggi membuat perusahaan melakukan strategi untuk mengendalikan ongkos produksi karena naiknya harga-harga bahan baku. Hal ini menyebabkan para ahli ekonomi di dunia mengatakan fenomena shrinkflation 2022 ini bukan hal yang baru.
Salah satunya, Edgar Dworsky seorang pengacara hak konsumen di Amerika Serikat, menyatakan bahwa sekiranya ada tiga cara bisnis menghadapi inflasi diantaranya:
Menaikan harga produk
Mengurangi ukuran produk
Membuat ulang produk dengan bahan yang lebih murah
Untuk menjaga daya beli konsumen, banyak perusahaan memilih untuk mengurangi volume atau ukuran produk atau memilih opsi kedua. Bagaimana pun perusahaan ingin menjaga minat konsumen dan menjaga produk mereka untuk tetap eksis dalam pasar.
Biasanya ketika kuantitas produk dikurangi, perusahaan akan membuat kemasan baru yang lebih menarik, sehingga konsumen tidak menyadari adanya penyusutan tersebut. Hal ini merupakan upaya mengatasi inflasi dari sisi perusahaan.
Menarik dari penjelasan sebelumnya, sekarang kita tahu bahwa penyebab shrinkflation dipicu oleh tiga faktor yaitu:
Naiknya harga bahan baku menjadi penyebab utama shrinkflasi. Biaya produksi yang meningkat diakibatkan naiknya harga bahan baku, komoditas energi dan tenaga kerja akan membuat marjin keuntungan produsen menurun.
Maka perusahaan akan menemukan strategi untuk mampu bersaing dalam pasar dengan mengurangi berat, kuantitas atau volume produk dengan harga eceran yang sama. Hal tersebut dapat meningkatkan keuntungan pada pihak produsen sendiri. Selain itu, kebanyakan konsumen tidak akan menyadari adanya pengurangan kuantitas produk.
Dalam kurva permintaan, kadang-kadang tren dan permintaan produk dapat berubah dengan drastis. Hal tersebut membuat perusahaan perlu membuat strategi baru atau membuat ulang produk mereka.
Biasanya persaingan yang ketat juga dapat menyebabkan penyusutan produk. Perusahaan makanan dan minuman ringan umumnya sangat kompetitif karena konsumen sendiri dapat menemukan berbagai produk pengganti yang ditawarkan kompetitor atau yang tersedia di pasar. Maka dari itu perusahaan mencari opsi untuk mempertahan kepercayaan konsumen dan keuntungan mereka.
Inflasi dan shrinkflation tidak sama, namun keduanya saling berkaitan. Hal tersebut disebabkan karena adanya kenaikan harga baku dan membuat biaya produksi perusahaan pun ikut naik. Inflasi berdampak pada harga di pasar, adanya kenaikan harga ini membuat perusahaan membuat strategi untuk mengecilkan produk mereka untuk menutupi kenaikan tersebut.
Untuk menetapkan jumlah penjualan biasanya perusahaan melakukan penyusutan (shrinkflation). Ada beberapa perusahaan yang melakukan shrinkflation secara sembunyi. Hal tersebut berisiko akan membuat konsumen kehilangan kepercayaannya. Namun, ada juga perusahaan yang melakukan shrinkflation secara terbuka kepada publik.
Fenomena shrinkflation di Indonesia yang ramai dibicarakan oleh netizen saat ini adalah makanan ringan snack jagung yang semakin mengecil produknya. Tetapi di negara-negara lain seperti Amerika, Jepang, India dan masih banyak lagi juga banyak terjadi.
Di Amerika sendiri, sekotak tisu dalam beberapa bulan sebelumnya memiliki sekitar 65 lembar namun karena inflasi di Amerika tengah melonjak, perusahaan menyusutnya menjadi 60 lembar. Di negara Inggris, Nestle memperkecil kaleng kopi Nescafe Azera Americano yang semula 100 gram menjadi 90 gram.
India pun demikian, sabun cuci piring ukurang batang diperkecil menjadi 135 gram yang semulanya adalah 155 gram. Perusahaan Calbee Inc di Jepang sebagai perusahaan pembuat makanan ringan, pada bulan Mei melakukan shrinkflation secara terang-terangan. Perusahaan mengumumkan bahwa pengurangan berat makanan hingga 10% dan harga pun naik sekitar 10% pada produk-produknya.
Adakah produk yang kamu ingat ketika disebutkan kondisi shrinkflation?
Semoga penjelasan mengenai shrinkflation ini dapat menjadi pemahaman baru untuk kamu sebagai konsumen maupun sebagai pelaku bisnis. Namun, perlu diingatkan kembali strategi bisnis shrinkflation bukanlah trik untuk menipu konsumen, pelaku usaha ataupun perusahaan yang demikian menerapkannya untuk keberlangsungan bisnis dan pihak terkait.
Tujuan shrinkflation adalah untuk mengendalikan biaya produksi perusahaan, strategi dapat tetap bersaing di pasar, dan sebagai upaya mengatasi inflasi dengan cara mengurangi ukuran produk akibat kenaikan harga bahan baku.
Adanya shrinkflation ini memberi keuntungan kepada konsumen, produk tetap terjangkau meskipun terjadi penyusutan yang tidak terlalu signifikan. Sedangkan untuk perusahaan dengan melakukan penyusutan kuantitas ini dapat mempertahankan atau meningkatkan keuntungan dari hasil penjualan produk.
Tetapi ada juga kerugian dari shrinkflation sendiri, yaitu potensi akan menimbulkan hilangnya kepercayaan konsumen, apalagi jika ada perubahan pada bahan bakunya. Konsumen akan merasa tidak adil dengan hal tersebut. Selain itu, persaingan antara perusahaan satu dengan yang lain tidak akan sehat dikarenakan adanya penyusutan kuantitas produk.
Shrinkflation memang membuat beberapa konsumen merasa dirugikan, namun pihak konsumen perlu sadar juga mengenai keadaan ekonomi yang sedang tidak stabil saat ini. Jika kamu memiliki bisnis perlu hati-hati dalam menggunakan metode shrinkflation. Kamu perlu cermat dan berpikir secara matang untuk mengambil keputusan kamu.
Inflasi memang dapat merugikan untuk siapapun apalagi untuk masyarakat yang memiliki pendapatan stagnan. Jika laju inflasi terus bertambah, maka harga produk dan jasa pun semakin naik. Hal ini menyebabkan masyarakat yang memiliki pendapatan stagnan akan menyebabkan pembengkakan pengeluaran.
Namun, kamu bisa melakukan tindakan untuk menghindari dan siap menghadapi dampak dari inflasi dengan berinvestasi. Mengapa dengan investasi? Karena dengan investasi kamu bisa melindungi nilai uang dari dampak inflasi yaitu penurunan daya beli. Selain itu, dengan mengalokasikan sebagian dana untuk berinvestasi akan memberikan keuntungan dari investasi tersebut.
Sekarang kamu bisa melakukan investasi modal minim dimulai dengan Rp1 juta dengan skema equity crowdfunding. Melalui skema equity crowdfunding, kamu bersama masyarakat luas bersama-sama patungan mendanai bisnis potensial yang sesuai dengan profil risiko kamu. Dengan pendanaan tersebut kamu akan mendapatkan keuntungan berupa dividen sesuai dengan performa bisnis.
LandX merupakan platform equity crowdfunding di Indonesia yang berpengalaman melakukan crowdfunding bagi berbagai bisnis potensial di berbagai sektor industri dan sudah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan.