Investor Penerbit
menu-mobile

Apa Itu Inflasi? Simak Pengertian dan Penyebab Terjadinya Inflasi

22 July 2022

|

6 Min Read

|

Author: Nadya A. Faatihah
Pengertian Inflasi dan Konsep Inflasi

Inflasi adalah keadaan perekonomian negara di mana ada kecenderungan kenaikan harga-harga dan jasa dalam periode waktu panjang yang pastinya berdampak bagi masyakat. Untuk itu, Anda perlu memahami pengertian dan konsepnya agar Anda bisa melakukan persiapan menghadapi inflasi.

Apa itu inflasi? Dilansir dari Bank Indonesia (BI), pengertian inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Penyebab inflasi ini pun disebabkan karena banyak faktor. Karena itu, agar lebih memahami lebih lanjut, Anda perlu membaca keseluruhan penjelasan apa yang dimaksud inflasi melalui artikel ini.

Pengertian Inflasi

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penyebab inflasi artinya kemerosotan nilai uang (kertas) karena banyaknya dan cepatnya uang (kertas) beredar sehingga menyebabkan naiknya harga barang-barang.

Namun, arti inflasi lain yang dilansir dari Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut bahwa inflasi adalah keadaan perekonomian negara di mana ada kecenderungan kenaikan harga-harga dan jasa dalam waktu panjang. Penyebab inflasi ini karena tidak seimbangnya arus uang dan barang.

Kenaikan harga sendiri di Indonesia sebenarnya kondisi yang wajar terjadi apalagi jika mendekati hari raya. Namun, kenaikan harga secara musiman tidak dapat dikategorikan sebagai inflasi. Ketika kebutuhan hari raya meningkat, harga produk dan jasa pun secara beringingan turut meningkat.

Terdapat kondisi spesifik yang harus terjadi agar kenaikan harga dapat dikatakan sebagai inflasi. Secara umum, konsep inflasi adalah kondisi kenaikan harga karena terlalu banyaknya uang yang beredar di masyarakat lebih banyak daripada yang dibutuhkan ini adalah fenomena penyebab inflasi yang utama. Namun, kenaikan angka inflasi dapat dibedakan menjadi beberapa kategori sebagai berikut.

  • Inflasi ringan, yaitu tingkat laju inflasi kurang dari 10% per tahun.
  • Inflasi sedang, tingkat laju inflasi di antara 10% - 30% per tahun.
  • Inflasi berat, yaitu tingkat laju inflasi berkisar antara 30% – 100% per tahun.
  • Hiperinflasi, yaitu ketika tingkat laju inflasi mencapai lebih dari 100% per tahun.

Cara Menghitung Inflasi

Agar kita memahami konsep inflasi dengan lebih baik, maka kita harus paham bagaimana perhitungan inflasi. Dalam konsep perhitungan inflasi faktor penyebab inflasi menjadi komponen yang diperhatikan dengan baik.

Untuk mengetahui penyebab inflasi, perlu ada perhitungan inflasi sesuai dengan tingkatannya. Inflasi terjadi jika tingkatan inflasi ini dapat dihitung dengan indikator Indeks Harga Konsumen (IHK), lalu pengukuran ini dikelompokkan ke dalam 7 kelompok pengeluaran berikut.

  1. Bahan Makanan
  2. Makanan Jadi, Minuman, dan Tembakau
  3. Perumahan
  4. Sandang
  5. Kesehatan
  6. Pendidikan dan Olahraga
  7. Transportasi dan Komunikasi

Dalam proses cara mengukur inflasi, sebuah negara memiliki formula perhitungan atau rumus inflasi yang digunakan. Jika terdapat tren kenaikan harga terus menerus dari produk atau jasa yang termasuk ke dalam 7 kelompok di atas, maka pemerintah akan mengacu pada indikator berikut.

  • Indeks Harga Konsumen (IHK) atau harga rata-rata kebutuhan konsumen.
  • Indeks harga produsen atau harga rata-rata dari bahan baku untuk produksi.
  • Indeks harga komoditas atau harga dari barang-barang tertentu.
  • Indeks biaya hidup yang merupakan perhitungan dari rata-rata biaya hidup di masyarakat.
  • Perubahan harga PDB atau Produksi Domestik Bruto.

Untuk di Indonesia sendiri, jika salah satu dari indikator di atas sudah diketahui, maka perhitungan laju inflasi akan dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Dari hasil hitungan, angka yang muncul akan menunjukkan klasifikasi tentang laju inflasi seperti berikut. Sebagai gambaran, berikut salah satu rumus menghitungnya.

Misalnya, Anda ingin mencari tahu tingkat kenaikan inflasi pada harga beras di tahun 2010 dan 2019. Harga beras  pada tahun 2011 adalah Rp8000 per kg, sedangkan harga beras pada tahun 2021 sebesar Rp15000 per kg. Maka perhitungan kenaikan tingkat inflasinya adalah sebagai berikut.

perhitungan indeks inflasi

Cara menghitung tingkat inflasi

Dari hasil tersebut, Anda dapat menyimpulkan bahwa harga beras mengalami inflasi sebesar 87,5% dari tahun 2011 hingga 2021, atau 8,75% per tahun. Angka tersebut menunjukkan bahwa harga beras mengalami inflasi ringan, karena dalam jangka waktu 10 tahun mengalami inflasi kurang dari 10% per tahunnya.

Penyebab Inflasi

Ada beberapa kondisi yang bisa menjadi penyebab inflasi. Kondisi penyebab inflasi di Indonesia sendiri dapat digambarkan melalui beberapa penjelasan di bawah ini.

1. Peningkatan Konsumsi Masyarakat

Jika peningkatan konsumsi masyarakat terus terjadi, hal ini akan menyebabkan persediaan barang menurun dengan cepat. Apalagi, jika karena permintaan terus naik, namun persediaan barang mengalami kendala sehingga tidak dapat mengimbangi permintaan konsumen, maka akan menimbulkan kenaikan harga yang jadi penyebab inflasi.

2. Likuiditas Pasar yang Berlebihan

Likuiditas ini berhubungan erat dengan jumlah uang yang beredar di tengah masyarakat. Semakin banyak jumlah uang yang beredar, maka kegiatan konsumsi masyarakat semakin meningkat. Hal inilah yang nantinya akan memicu penyebab inflasi.

3. Tersendatnya Distribusi Barang 

Tersendatnya distribusi barang di pasar bisa menjadi penyebab inflasi juga. Misalnya, di Indonesia stok minyak goreng dikorupsi sehingga distribusi di beberapa daerah tidak bisa berjalan selayaknya. Maka, secara otomatis, harga minyak goreng tersebut akan melambung tinggi karena tidak adanya stok yang biasa beredar sementara kebutuhan atas barang tersebut semakin meningkat. 

Persiapan Menghadapi Inflasi

Dari penjelasan di atas, inflasi dapat menyebabkan efek domino yang akhirnya bisa memberhentikan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jika inflasi terus terjadi, daya beli masyarakat akan semakin menurun. Padahal, penggerak laju ekonomi suatu negara salah satunya penopang utamanya adalah tingkat konsumsi masyarakat. 

Selain itu, inflasi akan merugikan masyarakat yang memiliki pendapatan stagnan. Jika laju inflasi terus bertambah, maka harga produk dan jasa pun akan ikut naik. Maka, jika pendapatan tetap stagnan, pengeluaran akan membengkak akan harga yang terus naik. Nantinya, tentu masyarakat akan memilih untuk menarik rem pengeluaran.

Kondisi ini secara luas, akan memengaruhi kestabilan mata uang suatu negara yang tentunya akan memengaruhi harga barang domestik atau pun impor. Tentu masyarakat secara luas akan merasakan dampak buruk dari laju inflasi yang parah.

Pemerintah Indonesia tentu memiliki strategi untuk mengontrol penyebab inflasi. Strategi ini berupa langkah preventif dimana pemerintah Indonesia dan Bank Indonesia (BI) memiliki target tahunan untuk mengontrol laju inflasi melalui kebijakan fiskal, moneter, dan kebijakan non-fiskal atau non-moneter yang diambil. 

Namun, sebagai masyarakat Anda bisa melakukan tindakan untuk menghindari dan menghadapi dampak inflasi, salah satunya adalah melakukan investasi. Karena melalui investasi, untuk melindungi nilai uang dari penurunan daya beli, uang tersebut perlu diinvestasikan dalam aset yang bisa menghasilkan imbal hasil yang lebih tinggi dibandingkan dengan laju inflasi. 

Singkatnya, dengan Anda mengalokasikan dana untuk berinvestasi, dana tersebut akan meningkat nominalnya sehingga ketika nanti inflasi terjadi, dana yang Anda miliki pasti akan ikut meningkat jauh dari modal awal investasi. Seiring dengan peningkatan pendapatan dari investasi, semakin leluasa juga Anda dalam memiliki opsi untuk menabung, menyiapkan dana hari tua, atau kebutuhan lainnya.

Peluang Investasi dengan Modal Minim

Tidak seperti dulu, sekarang instrumen investasi dapat diakses oleh siapa pun dan dimana pun. Dulu investasi identik dengan membutuhkan nominal alokasi dana besar untuk logam mulia, obligasi, properti, saham, atau deposito. Pada era sekarang, terdapat opsi untuk investasi menjanjikan dengan modal minim misalnya reksa dana atau equity crowdfunding

Misalnya, jika dulu investor hanya bisa membeli saham perusahaan besar (Tbk) di Bursa Efek Indonesia, saat ini badan usaha UMKM seperti CV, NV, Firma, dan lainnya juga dapat listing penawaran saham melalui skema securities crowdfunding (SCF) yang merupakan pengembangan skema Equity Crowdfunding (ECF).

Equity crowdfunding pada dasarnya hanya menerbitkan efek berupa saham yang ditawarkan kepada investor guna pendanaan pengembangan bisnis UMKM. Sementara dalam securities crowdfunding, instrumen keuangan yang ditawarkan lebih beragam. Mulai dari saham, obligasi, hingga sukuk sehingga investor bisa diversifikasi profil risiko mereka.

LandX merupakan salah satu platform equity crowdfunding yang sedang berproses menjadi securities crowdfunding. Tentunya, platform ini telah berpengalaman melakukan crowdfunding bagi berbagai bisnis potensial di berbagai sektor industri.

Jadi, jika Anda ingin tahu lebih banyak lagi tentang investasi dengan skema ini, pastikan untuk berinvestasi melalui platform yang terpercaya, aman, dan pastinya mengantongi izin OJK seperti LandX ya!

Mulai Persiapan Menghadapi Inflasi dengan Investasi Modal 1 Juta di LandX Sekarang Juga!

miliki bisnis modal kecil cuma dengan 1 jutaan dapat 4 cabang

Baca Juga