28 June 2022
|
6 Min Read
|
Instrumen investasi utang jenisnya beragam, mulai dari SPN, Obligasi, Mortgage, hingga P2P Lending di mana masing-masingnya memiliki risiko investasi instrumen utang.
Instrumen investasi adalah platform atau media yang digunakan investor melindungi nilai aset yang dimiliki agar target finansialnya tercapai. Untuk itu, aspek tabungan dan investasi dalam sebuah instrumen adalah komponen yang penting dalam untuk mendukung pertumbuhan ekonomi seseorang.
Banyak opsi instrumen investasi yang dapat dipilih, salah satunya jenis investasi instrumen utang. Untuk tahu lebih banyak, mari pahami risiko investasi instrumen utang, jenisnya, dan peluang menggunakan bisnis sebagai instrumen Investasi.
Investasi instrumen utang adalah kesepakatan mengikat yang menyediakan dana pada peminjam. Dalam instrumen investasi ini, terdapat kesepakatan tentang agunan yang terlibat, tingkat bunga, jangka waktu, hingga tempo pembayaran bunga.
Kesepakatan ini yang akan mengatur keuntungan bagi pihak yang meminjamkan uang karena selain membayarkan nominal yang dipinjam, pihak yang meminjam perlu membayar tingkat bunga dalam jangka waktu tertentu juga.
Instrumen investasi berbasis utang memiliki aset dasar berupa pembayaran dalam jumlah tetap dengan bunga sejumlah waktu tertentu sehingga risiko investasi instrumen utang ini sifatnya yang mengikat pihak peminjam dan pemberi pinjaman. Jenisnya sendiri terbagi menjadi dua, yaitu utang jangka pendek dan utang jangka panjang.
Untuk utang jangka panjang, peminjam memiliki jangka waktu untuk melunasi utang tersebut lebih dari satu tahun. Sementara utang jangka pendek harus dilunasi dalam jangka waktu satu tahun. Berikut adalah penjelasan mengenai contoh investasi instrumen utang.
Surat Perbendaharaan Negara (SPN) adalah surat berharga berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing yang dijamin pembayaran dan pokoknya oleh Negara Republik Indonesia. Pembayaran bunga Surat Perbendaharaan Negara dilakukan secara diskonto dalam jangka waktu sampai dengan 12 bulan sehingga Surat Perbendaharaan Negara dapat dikategorikan sebagai utang jangka pendek.
Dengan kata lain, suku bunga Surat Perbendaharaan Negara adalah imbalan yang didapatkan oleh investor Surat Perbendaharaan Negara yang dihitung dalam persentase terhadap jumlah pokok utang dalam waktu setahun. Akan tetapi, bayarannya dapat dilakukan secara tiga bulan sekali atau diskonto.
Dalam Obligasi Negara, terdapat tiga jenis obligasi yaitu Obligasi Ritel Indonesia (ORI), Savings Bond Ritel (SBR), dan Sukuk Ritel (SR). Obligasi termasuk ke dalam Surat Utang Negara, namun memiliki jangka waktu pelunasan lebih dari 12 bulan dengan pembayaran kupon atau bunga secara diskonto. Sehingga, obligasi dapat dikategorikan ke dalam utang jangka panjang.
Obligasi Negara dengan kupon memiliki jadwal pembayaran kupon yang periodik yaitu 1, 3, atau 6 bulan sekali. Sementara itu, jenis obligasi lainnya seperti Obligasi Ritel Indonesia (ORI), Savings Bond Ritel (SBR), dan Sukuk Ritel (SR) tidak punya jadwal pembayaran kupon, tetapi dibayar secara ritel.
Obligasi korporasi atau swasta merupakan surat utang yang dikeluarkan oleh perusahaan swasta maupun pemerintah seperti BUMN. Perusahaan yang mengeluarkan obligasi jenis ini beragam. Mulai dari perusahaan yang bergerak di bisnis industri properti, F&B, tambang, dan masih banyak lagi.
Perbedaan obligasi pemerintah dan swasta terletak pada penggunaan dana para investor. Jika dalam Obligasi Negara dana dari para investor yang akan digunakan untuk kebutuhan APBN, dalam Obligasi Korporasi dana ini digunakan untuk pembiayaan perusahaan swasta, BUMN, atau BUMD.
Hipotek atau mortgage adalah instrumen investasi utang yang jaminannya dalam bentuk properti. Pihak peminjam memberikan hak tanggungan properti ke pihak pemberi pinjaman sebagai suatu syarat jaminan atas kewajiban pembayaran utang.
Meski pihak peminjam berutang, namun peminjam bisa memanfaatkan ataupun menggunakan properti tersebut. Jika kewajiban atau utangnya sudah dilunasi, maka tanggungan properti pun akan dinyatakan gugur.
Umumnya, hipotek berkaitan dengan pembelian properti oleh seseorang yang tidak memiliki uang dalam jumlah banyak dalam suatu waktu. Sehingga, pembelian atau penyewaan properti tidak bisa lunas di muka. Peminjam tersebut akan berutang dalam kurun waktu tertentu (umumnya bertahun-tahun) dan membayarkan juga bunga dari nominal pinjaman.
Investor dapat berperan sebagai pemberi pinjaman dengan membangun atau membeli properti secara pribadi, lalu menyewakannya atau menjualnya kembali. Atau, mendapatkan return dividen dari membeli saham properti melalui platform seperti equity crowdfunding yang menghubungkan pemilik bisnis properti dengan para investor.
P2P lending atau peer-to-peer lending adalah sistem yang melalui sebuah platform, pemberi pinjaman (lender) dengan peminjam (borrower) dapat dipertemukan secara online. Melalui sistem Peer-to-peer Lending, peminjam harus membayar pokok pinjaman, beserta bunga sesuai dengan tenor yang ditentukan.
Dari bunga atau tenor itu, investor atau lender akan memperoleh imbal hasil atau return setiap bulan atau setiap tahun, tergantung kesepakatan. Hingga saat ini, fintech Peer-to-peer Lending menjadi salah satu industri di bidang keuangan yang semakin berkembang di Indonesia, baik P2P lending konvensional atau berbentuk P2P lending syariah.
Dari jenis instrumen investasi utang di atas, terdapat risiko investasi yang mungkin ditanggung oleh investor sesuai dengan jenis instrumen utangnya. Namun, risiko investasi instrumen utang ini dapat dijelaskan ke dalam poin berikut.
1. Risiko investasi instrumen utang seperti Obligasi Negara dan Surat Perbendaharaan Negara dapat dikatakan sangat minim. Hal ini karena surat pengakuan utang ini dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh negara RI sesuai masa berlakunya sehingga risiko investasi instrumen utang ini dapat dikatakan hampir tidak ada.
2. Risiko investasi instrumen utang Obligasi Korporasi mempunyai tingkat risiko yang lebih tinggi. Risiko ini tergantung dari jenis perusahaan, bidang industri, serta kondisi pasar yang ada karena komponen tersebut secara langsung berdampak pada performa bisnis perusahaan.
Namun, jika investor memilih untuk mengalokasikan dananya pada bisnis sebuah perusahaan yang berjalan dengan baik, maka bukan hal yang tidak mungkin risiko instrumen investasi utang ini dapat memberikan return yang menjanjikan.
3. Risiko investasi instrumen utang hipotek atau properti adalah risiko kehilangan nilai aset jika pelunasan gagal diwujudkan. Meski nilai properti cenderung terus meningkat dan tingkat bunga akan terus bertambah, jika peminjam gagal bayar, properti cenderung membutuhkan waktu yang lama untuk diperjual belikan dan membutuhkan biaya untuk perawatan.
4. Risiko investasi instrumen utang P2P lending adalah jika peminjam menunggak tagihan atau bahkan tidak melanjutkan tagihan berdasarkan ketentuan yang semestinya. Jika ini terjadi, maka risiko hilangnya pinjaman ditanggung sepenuhnya oleh lender (investor).
Jika dahulu mendapatkan keuntungan melalui bisnis identik dengan membangun bisnis dari nol hingga akhirnya sukses dan mendapatkan profit, saat ini siapa pun bisa mendapatkan keuntungan dari bisnis dengan melakukan investasi. Keuntungan dari investasi bisnis pun bisa disesuaikan dengan target finansial investornya.
Sebagai contoh, Anda bisa menjadi pemilik bisnis di bidang properti dan F&B dalam waktu yang bersamaan dengan mengalokasikan dana untuk membeli aset berupa saham perusahaan yang listing di platform investasi. Anda juga memiliki keleluasaan dalam memilih jenis bisnis yang ingin diinvestasikan sesuai dengan preferensi profil risiko yang dimiliki.
Jika Anda memiliki dana yang cukup tinggi, maka Anda bisa memiliki instrumen investasi saham atau surat utang. Namun, jika Anda memiliki dana minim, memiliki beberapa bisnis dalam bentuk investasi aset saham juga dapat direalisasikan dengan skema equity crowdfunding.
Skema equity crowdfunding adalah sistem pendanaan bagi badan usaha UMKM seperti CV, NV, Firma, dan lainnya yang listing penawaran saham melalui platform Securities Crowdfunding (SCF). Anda berkesempatan untuk memberi suntikan dana bagi bisnis UMKM untuk mengembangkan bisnisnya sehingga ketika bisnis tersebut profit, Anda dapat mendapat keuntungan investasi dalam bentuk dividen secara rutin.
Melalui platform equity crowdfunding berpengalaman dan mengantongi izin OJK seperti LandX, Anda berpeluang untuk berinvestasi pada bisnis dengan prospek yang menjanjikan. Pilihan bisnisnya pun beragam, misalnya bisnis di bidang industri F&B seperti coffee shop, sushi restaurant, ice cream and dessert, dan juga cloud kitchen. Atau, bisnis di bidang industri pet economy yang tengah naik daun seperti pet salon and grooming. Ditambah lagi bisnis industri properti yang selalu ada peminatnya seperti kos-kosan.
Dengan menggunakan bisnis sebagai instrumen investasi, Anda dapat melakukan diversifikasi profil risiko untuk mengoptimalkan return investasi. Dengan ini, Anda bisa memaksimalkan aspek tabungan dan investasi untuk mencapai target finansial yang diinginkan.
