25 August 2022
|
5 Min Read
|
Siklus kehidupan financial adalah tahapan kehidupan seseorang dalam membuat strategi perencanaan keuangan. Pahami juga siklus kehidupan manajemen aset dalam artikel ini.
Status Anda saat ini apa? Apakah seorang yang baru lulus kuliah, sudah menikah dan punya tanggungan, atau telah berumur mapan di atas 46 tahun? Kondisi ini berkaitan bagian dengan siklus kehidupan keuangan setiap individu di bumi.
Apa yang dimaksud siklus kehidupan keuangan? Siklus kehidupan keuangan adalah tahapan kehidupan seseorang dalam membuat strategi perencanaan keuangan.
Mengetahui dan memahami posisi siklus kehidupan Anda akan sangat bermanfaat mengarahkan strategi persiapan finansial yang tepat. Ada tiga tahapan siklus kehidupan keuangan yang perlu Anda ketahui.
Oleh karena itu, mari kita bahas lebih lanjut karakteristik siklus keuangan serta strategi keuangan terbaik.
Siklus kehidupan keuangan adalah tahapan kehidupan seseorang dalam membuat strategi perencanaan keuangan. Manfaat memahami siklus kehidupan keuangan adalah membuat strategi keuangan yang tepat sesuai kondisi.
Elemen pembentuk rencana keuangan meliputi budgeting agar memiliki simpanan dana (saving), berinvestasi untuk mendapat tambahan pendapatan, proteksi keuangan, mengelola aset dan utang agar menjadi kekayaan.
Penting juga untuk mengulas apa saja sumber daya yang Anda miliki saat ini serta kesempatan aktivitas yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kekayaan.
Setiap pribadi berhak untuk hidup sejahtera. Salah satu cara mencapainya adalah memahami siklus kehidupan keuangan agar bisa membuat perencanaan keuangan dengan maksimal. Oleh karena itu, yuk kenali 3 tahapan besar dari siklus kehidupan keuangan sebagai berikut:
Tahap mengumpulkan kekayaan dimulai ketika seseorang telah menghasilkan pendapatan. Umumnya seseorang mulai bekerja ketika telah menyelesaikan pendidikan formal.
Tahap wealth accumulation adalah orang-orang kisaran umur 20 hingga 30 tahun. Cara mengumpulkan kekayaan dapat dilakukan dengan cara bekerja di suatu organisasi perusahaan, membangun usaha, investasi, atau kombinasi semuanya.
Masalah yang dihadapi seseorang pada tahap mengumpulkan kekayaan meliputi rencana mencapai tujuan keuangan di masa depan seperti membeli rumah, biaya pernikahan, serta mobil baru. Kemudian dibuat strategi keuangan dengan menabung (saving), freelance, usaha sampingan, dan belajar investasi.
Pada tahap meningkatkan kekayaan, seseorang berumur 30-50 tahun akan dihadapkan pada cara mengelola keuangannya. Orang-orang di tahap ini akan berusaha membuat dan melancarkan strategi keuangan untuk meningkatkan kekayaannya.
Cara meningkatkan kekayaan pada siklus ini dapat dilakukan dengan naik jabatan kerja, memperluas usaha, serta berinvestasi. Jika hal ini belum tercapai maka mereka harus cermat mengatur keuangannya. Karena di umur tahap wealth preservation ini mereka telah memiliki tanggungan seperti anak dan kebutuhan pendidikannya.
Selain itu, orang pada tahap ini juga akan memikirkan rencana proteksi keuangan untuk keluarganya dengan memiliki dana darurat serta asuransi. Setelah dana darurat dan asuransi tersedia maka hal yang perlu dipersiapkan selanjutnya adalah dana pensiun. Fungsi dana pensiun perlu dihitung agar tidak kesulitan jika pada saat hari senja nanti tidak memiliki pendapatan lancar.
Tahap distribusi kekayaan dimulai ketika telah berusia lanjut usia. 50-60 tahun. Pada tahap ini seseorang mulai berpikir cara untuk meringankan beban anggota keluarga dengan kekayaan yang telah dikumpulkan.
Distribusi kekayaan seperti warisan tidak hanya sekedar membagikan pada ahli waris namun, harta seperti apa yang akan dibagikan. Harta atau aset dapat berupa tanah, toko, emas, serta dana pada investasi.
Di mana pun tahap siklus kehidupan keuangan Anda saat ini, tidak ada kata terlambat untuk membuat perencanaan keuangan demi masa depan yang lebih baik. Pahami tahapan ini serta sesuaikan kondisi keuangan Anda untuk melakukan perencanaan keuangan yang baik.
Selain rencana keuangan dan manajemen aset pribadi, perusahaan juga penting untuk menerapkannya. Terdapat istilah asset management life cycle atau siklus kehidupan manajemen aset yang perlu dilakukan perusahaan agar tidak kewalahan menghadapi isu di masa depan.
Isu-isu keuangan yang dapat dihadapi perusahaan dapat meliputi terhambatnya melakukan skalabilitas (scalability), terbatasnya anggaran untuk menambah pembelian mesin atau equipment baru, atau terjadi pengeluaran yang tidak efisien.
Untuk siap menghadapi situasi tidak terduga maka perusahaan perlu melakukan perencanaan keuangan agar dapat melakukan perbaikan, strategi agar dapat unggul di industri, dan cermat mengelola aset krusial.
Siklus kehidupan manajemen aset adalah proses mengelola penggunaan dan pemeliharaan aset selama periode masa pakai. Dengan memahami standarisasi prosedur dari manajemen aset (asset management lifecycle) maka akan membantu meminimalisir potensi interupsi serta melihat celah yang dapat ditingkatkan.
Terdapat 4 tahap siklus kehidupan manajemen aset untuk kita ulas berikut ini:
Tahap pertama siklus kehidupan aset adalah mengidentifikasi kebutuhan dari berbagai jenis aset. Daftar aset yang dibutuhkan kemudian dievaluasi berdasarkan kriteria kebutuhan dan fungsinya.
Tahap perencanaan (planning) aset perusahaan juga mencakup bentuk desain aset jika custom, tata letak, koordinasi dalam kegiatan operasi, serta strategi jangka panjang penggunaan seperti rencana pemeliharaan (maintenance).
Tahap akuisisi aset dikenal juga sebagai tahap pembelian aset (procurement). Pada tahap ini penting kemampuan negosiasi ditunjukkan agar bisa mendapatkan harga yang sesuai anggaran.
Setelah melakukan akuisisi dan/atau pembelian kemudian melakukan instalasi aset seperti mesin produksi, komputer, meja dan kursi pada lokasi yang tepat.
Tahap operasional pada siklus kehidupan aset artinya telah memasuki masa penggunaan atau digunakan. Dalam masa pakainya, untuk mencegah kemungkinan terjadi kerusakan parah pada aset maka dilancarkan kegiatan pemeliharaan aset (maintenance).
Tergantung jenis asetnya, apakah dapat bertahan dalam periode waktu jangka panjang atau habis masa pakai hingga harus diganti dengan yang baru. Untuk aset seperti mesin produksi yang diperkirakan dapat dipakai puluhan tahun maka strategi maintenance jangka panjang perlu direncanakan segera. Aset yang terbilang lebih rentan rusak setelah beberapa atau belasan tahun seperti kursi kantor sebaiknya diganti dengan yang baru.
Ketika aset telah mencapai titik habis masa pakai maka kehidupan aset perlu dilanjutkan ke tahap final dari asset management lifecycle yaitu pembuangan (disposal). Tidak hanya asal buang di tempat pembuangan sampah umum, pembuangan aset juga harus melalui perencanaan.
Perencanaan disposal aset yang baik mencerminkan tata krama perusahaan dengan sebaiknya memiliki fokus pada aksi yang tidak merusak lingkungan.
Nah, itulah 3 tahap siklus kehidupan keuangan sebagai individu dan 4 tahap pada siklus kehidupan manajemen aset sebuah organisasi. Sebagai individu, memahami setiap siklus keuangan adalah kegiatan yang sangat membantu untuk menentukan strategi dan rencana keuangan yang tepat.
Perusahaan pun harus memahami bahwa terdapat siklus kehidupan dalam manajemen aset agar meminimalisir risiko biaya perbaikan yang terlalu besar sehingga berdampak pada arus keuangan perusahaan. Karena dasar kesehatan finansial yang baik adalah biaya pengeluaran tidak lebih besar daripada pendapatan.
Banyak cara untuk menambah pendapatan seperti membuka usaha sampingan dengan berbagai potensi bisnis serta melakukan investasi yang memberi return. Jika Anda memilih berinvestasi maka sesuaikan dengan tujuan keuangan yang dicapai dan profil risiko investasi ya.