13 July 2022
|
5 Min Read
|
Pada artikel ini kita akan membahas lebih lanjut terkait penyebab cost push inflation dan perbedaan demand pull inflation dengan cost inflation. Yuk, scroll lebih lanjut.
Cost Push Inflation – Sebelum membahas langsung definisi cost push inflation, mari kita ulas singkat terkait inflasi. Inflasi adalah suatu peristiwa naiknya harga-harga barang dan jasa yang terjadi secara terus-menerus sehingga mengakibatkan nilai uang turun.
Ciri-ciri inflasi adalah nilai uang yang turun, jumlah uang beredar dan jumlah barang tidak seimbang, dan harga-harga cenderung naik. Ada beberapa jenis inflasi berdasarkan penyebabnya, yakni demand push inflation dan cost push inflation.
Demand push inflation adalah inflasi yang terjadinya permintaan secara berlebihan namun tidak diiringi ketersediaan barang. Cost push inflation adalah inflasi yang terjadi disebabkan oleh biaya produksi sehingga menyebabkan jumlah produk beredar terbatas namun permintaan stabil.
Pada artikel ini kita akan membahas lebih lanjut terkait penyebab cost push inflation dan perbedaan demand pull inflation dengan cost push inflation. Yuk, scroll lebih lanjut.
Setelah mengulas kembali definisi inflasi, mari kita cari tahu lebih lanjut apa itu cost push inflation.
Cost push inflation adalah inflasi yang disebabkan oleh biaya produksi. Hal ini berarti penyebab terjadinya cost push inflation adalah karena aktivitas produsen yaitu biaya produksi yang naik. Apa maksudnya hubungan aktivitas produsen dan inflasi?
Jika biaya produksi naik, maka tentu produsen akan membatasi jumlah output atau barang yang diproduksi, sehingga produk yang dibutuhkan di masyarakat jumlahnya terbatas. Keadaan terbatasnya jumlah produk yang dibutuhkan masyarakat, tentu membuat masyarakat akan rela membeli produk dengan harga yang lebih tinggi. Sehingga, hal ini menimbulkan kondisi inflasi.
Agar lebih paham dengan baik, berikut kurva cost push inflation dan penjelasannya.
Dari gambar kurva cost push inflation di atas dapat terlihat garis supply S yang bergeser ke kiri menjadi S1, hal ini berarti terjadi inflasi karena barang yang diproduksi terbatas disebabkan kenaikan biaya produksi. Sehingga titik keseimbangan pasar dengan lambang E bergeser ke E1.
Terlihat titik keseimbangan awal (E) terjadi karena pertemuan titik (Q,P). Apabila terjadi kenaikan biaya produksi yang menyebabkan jumlah output produk diturunkan maka akan menyebabkan barang beredar menjadi langka. Sehingga terjadi pergeseran titik Q ke Q1.
Barang yang dibutuhkan konsumen dengan jumlah terbatas hingga langka ini membuat barang dinilai berharga sehingga konsumen bersedia membayar dihargai lebih tinggi. Terlihat pergeseran titik P ke P1. Hal inilah yang menyebabkan kenaikan biaya produksi yang menyebabkan terbatasnya jumlah output barang dapat mengakibatkan fenomena inflasi, khususnya jenis cost push inflation.
Seperti yang telah dibahas bahwa penyebab terjadinya cost push inflation adalah karena aktivitas produksi. Lebih lanjut, dari sisi aktivitas produksi ada tiga jenis hal yang dapat menyebabkan terjadinya inflasi.
Inflasi yang terjadi karena kenaikan biaya produksi
Inflasi dapat terjadi karena kenaikan biaya produksi, contoh cost push inflation adalah terjadinya kenaikan harga minyak goreng di tahun 2022 ini. Sehingga menyebabkan berbagai rumah produksi menaikkan harga jual barangnya agar tidak neraca tidak berada di posisi rugi.
Inflasi yang terjadi karena penurunan produksi
Terjadi penurunan jumlah output produksi sehingga menyebabkan stok produk menjadi langka. Penyebab penurunan produksi beragam, salah satunya karena terjadinya bencana sehingga menghambat proses produksi.
Inflasi yang terjadi karena terhambatnya distribusi
Inflasi yang terjadi di sisi produksi yang disebabkan oleh terhambatnya distribusi. Terhambatnya distribusi barang seperti ke daerah-daerah yang jauh membuat keterlambatan ketersediaan barang dan jumlah barang tersedia terbatas.
Kenaikan harga barang dan jasa yang terus berlanjut merupakan bagian yang menyakitkan bagi konsumen. Karena kita tidak tahu persis berapa lama inflasi akan bertahan atau bagaimana kita harus bereaksi secara finansial.
Karena itu untuk konsumen dengan belanja harian, kenaikan harga dapat diartikan membatasi pengeluaran royal untuk menghindari pengeluaran besar dari dompet Anda. Tetapi bagi mereka yang berinvestasi, Anda mungkin lebih khawatir tentang kehilangan dan tergerusnya nilai uang Anda di pasar.
Dilansir Investopedia, inflasi paling memiliki dampak merusak pada nilai sekuritas utang dengan suku bunga tetap, karena mendevaluasi pembayaran suku bunga serta pembayaran pokok. Jika tingkat inflasi melebihi tingkat bunga, pemberi pinjaman pada dasarnya kehilangan uang setelah disesuaikan dengan inflasi.
Contoh pengaruh inflasi pada investasi dengan pendapatan bunga tetap yaitu Anda berinvestasi sebesar Rp 1 juta dengan bunga 10% per tahun. Sehingga tahun berikutnya pendapatan Anda adalah Rp 1,1, dan diketahui misal tingkat inflasi adalah 4%. Maka untuk menghitung besar riil nilai uangnya, pendapatan Anda harus dikurangi inflasi sehingga didapat keuntungan sebesar 6% saja yang seharusnya bisa 10%.
Inilah sebabnya mengapa investor sebaiknya juga memiliki fokus pada tingkat bunga riil yang diperoleh dengan mengurangkan tingkat inflasi dari tingkat bunga nominal.
Aset yang paling menguntungkan saat inflasi adalah aset yang dijamin menghasilkan lebih uang atau meningkat nilainya seiring dengan meningkatnya inflasi. Contohnya sewa properti yang mengalami kenaikan sewa secara berkala dan saham komoditas yang ternyata dapat perform dengan baik.
Inflasi dapat berdampak signifikan pada portofolio Anda dari waktu ke waktu. Selain pekerjaan profesional, pertimbangkan dua langkah yang dapat membantu melindungi investasi Anda dari inflasi:
1. Memiliki Dana Darurat
Inflasi berarti harga barang dan jasa mengalami kenaikan. Agar pengeluaran tidak boncos maka diperlukan penghematan dan apabila terjadi hal tak terduga maka uang darurat dapat dimanfaatkan.
Wajib untuk memiliki dana darurat bagi setiap individu dengan tanggungannya. Minimal besar dana darurat adalah perhitungan pengeluaran bulanan Anda dikalikan tiga bulan. Dapat juga dengan menyimpan dana darurat sebesar 6 kali gaji bulanan Anda.
2. Melakukan Diversifikasi Portofolio Investasi
Strategi diversifikasi portofolio dapat Anda lakukan dengan memiliki saham komoditas, emas, uang tunai dana darurat, dan lainnya. Namun, tidak ada jaminan keuangan Anda terhindar dari gerusan inflasi karena pertumbuhan ekonomi yang dapat tumbuh secara unik.
Karena itu, penting melakukan investasi sedari dini atau mulai hari ini agar Anda dapat memersiapkan diri lebih baik sebelum inflasi terjadi. Salah satunya dengan berinvestasi pada saham bisnis privat di equity crowdfunding.
Equity crowdfunding adalah cara Anda dapat berinvestasi pada berbagai sektor bisnis privat dengan modal minim dan mendapat potensi keuntungan dividen. Potensi keuntungan yang Anda dapat adalah bentuk investasi bagi hasil dari laba operasional perusahaan.
Sehingga sembari Anda berinvestasi, berarti Anda ikut mendorong pertumbuhan ekonomi agar dapat memperlambat laju inflasi. Oleh karena itu..