24 June 2022
|
6 Min Read
|
Kondisi surplus ekonomi adalah adanya sumber daya atau aset yang jumlahnya melebihi porsi yang digunakan secara aktif. Istilah kondisi surplus ekonomi bisa diterapkan ke berbagai konsep, mulai dari modal, pendapatan, keuntungan, maupun jumlah persediaan barang.
Surplus adalah istilah yang digunakan dalam konsep akuntansi atau keuangan untuk menunjukkan kondisi jumlah pemasukan lebih dari jumlah pengeluaran. Namun, pengertian surplus ekonomi sebenarnya bisa didefinisikan untuk kondisi surplus ekonomi dalam konsep lainnya.
Untuk lebih memahami definisi ini, maka mengetahui arti surplus dan defisit juga diperlukan. Berikut penjelasan lengkapnya.
Pada dasarnya, kondisi surplus ekonomi adalah adanya sumber daya atau aset yang jumlahnya melebihi porsi yang digunakan secara aktif. Istilah kondisi surplus ekonomi bisa diterapkan ke berbagai konsep, mulai dari modal, pendapatan, keuntungan, maupun jumlah persediaan barang.
Dalam konsep keuangan, kondisi surplus ekonomi dapat diartikan sebagai hal yang menguntungkan. Karena kondisi surplus ekonomi terjadi saat jumlah pemasukan atau pendapatan lebih besar dibandingkan biaya pengeluaran.
Sementara itu, dalam konsep ketersediaan barang, kondisi surplus ekonomi muncul ketika stok produk yang tersedia jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan kebutuhan. Dalam konteks ini, kondisi surplus ekonomi tentu bukanlah hal yang baik. Terlalu banyaknya stok produk artinya ada penumpukan produk di gudang yang menandakan hadirnya kerugian karena produk tidak terjual.
Tentunya, kondisi surplus ekonomi memiliki pengertian dan dampak yang berbeda sesuai dengan konteks, kondisi, dan konsep tertentu. Karena itu, kondisi surplus ekonomi tidak bisa dilimitasi pada satu pengertian saja.
Secara garis besar. kondisi surplus ekonomi dapat dijelaskan ke dalam dua jenis, yaitu surplus produsen dan surplus konsumen. Berikut adalah penjelasannya.
Kondisi surplus konsumen ditandai dengan harga produk atau jasa lebih rendah jika dibandingkan dengan harga tertinggi yang mampu dikeluarkan oleh konsumen. Contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah sistem lelang, di mana terdapat penawaran harga awal yang telah ditentukan tetapi seseorang saling mengajukan harga yang paling tinggi hingga akhirnya terjual.
Atau, contoh lainnya adalah ketika seseorang mengalokasikan dana Rp3 juta untuk membeli jam tangan. Namun ternyata, harga jam tersebut hanya Rp2,5 juta. Maka, sebagai konsumen, orang tersebut mendapatkan kondisi ekonomi surplus sebesar Rp500 ribu.
Dari contoh di atas, kondisi surplus ekonomi pada konsumen adalah kondisi saat konsumen membayar harga yang lebih murah atau lebih rendah ketimbang harga yang bersedia dibayar oleh mereka.
Dari segi berbisnis, terdapat situasi yang dikenal dengan surplus produsen. Kondisi ini adalah keuntungan yang diterima produsen dari selisih harga yang sebenarnya dengan harga yang diterima oleh produsen. Artinya, kondisi surplus ekonomi pada produsen ditandai ketika harga jual yang diterima produsen jauh lebih besar ketimbang harga yang awalnya mereka kehendaki.
Misalnya, ketika perusahaan real estate menawarkan rumah tipe A dengan harga Rp1,2 M. Namun, rumah tipe A ini laku di pasaran dengan harga Rp1,5 M. Maka, kondisi surplus ekonomi yang dialami produsen tersebut adalah Rp300 juta.
Jika kondisi surplus ekonomi adalah sumber daya atau aset yang jumlahnya melebihi porsi yang digunakan secara aktif, maka defisit adalah ketika kekurangan sumber daya tau aset yang bisa digunakan. Untuk lebih memahami perbedaan defisit dan surplus, maka ini penjelasan contohnya.
Dalam anggaran ini, kondisi surplus ekonomi terjadi saat pendapatan anggota keluarga memiliki jumlah lebih besar dari anggaran yang harus dibelanjakan. Misalnya, pembayaran kebutuhan tagihan air, listrik, internet, cicilan rumah, dan sebagainya.
Sementara pendapatan untuk memenuhi kebutuhan itu berasal dari gaji atau profit investasi. Jika jumlah pendapatan ini lebih kecil dibanding pengeluaran kebutuhan yang harus ditanggung, maka akan terjadi defisit.
Sebuah perusahaan bisa dikatakan mengalami kondisi surplus ekonomi jika penjualan produk atau jasa yang dihasilkan nominalnya lebih besar dari pengeluaran operasional.
Jika perusahaan bisa memenuhi pengeluaran untuk kebutuhan seperti upah karyawan, bahan baku produk, biaya sewa bangunan, hingga biaya kebersihan, air, dan listrik namun masih memiliki sisa kas yang berlebih, maka ini adalah kondisi surplus ekonomi.
Jika ternyata pemasukan tidak bisa memenuhi pengeluaran perusahaan, maka kondisi defisit ekonomi terjadi.
Terdapat grafik “Surplus Ekonomi” yang dapat menggambarkan rumus surplus produsen dan konsumen. Berikut adalah grafik dan penjelasannya.
Dilihat dari grafik tersebut, kondisi surplus konsumen adalah segitiga di atas harga pasar (harga ekuilibrium) dan di bawah kurva permintaan. Sementara itu, area di atas tingkat penawaran dan di bawah harga ekuilibrium disebut surplus produksi. Dari penjelasan ini, maka rumus kondisi surplus ekonomi adalah berikut ini.
Dari pembahasan sebelumnya, terdapat penjelasan mengenai kondisi surplus ekonomi di perusahaan. Ketika sebuah bisnis memiliki manajemen yang baik, target kondisi keuangan yang ingin diraih, strategi bisnis yang cerdas, dan juga laporan keuangan sistematis dan transparan, maka produk atau jasa yang ditawarkan oleh perusahaan itu pasti bisa memiliki harga yang kompetitif di pasar. Dengan ini, produk dan jasa ini akan memiliki demand yang terus berkembang di masyarakat.
Jika kamu adalah seorang investor yang menanamkan modalnya di perusahaan yang diilustrasikan di atas, maka sudah pasti kamu akan mendapatkan return investasi yang menguntungkan sebagaimana perusahaan tersebut mengalami kondisi surplus ekonomi pada laporan keuangannya.
Jika hasil laporan keuangan sebuah perusahaan laba, maka sudah pasti secara finansial perusahaan tersebut mengalami surplus. Karena itu, kondisi surplus ekonomi pasti memengaruhi dividen yang diterima oleh seorang investor.
Sama halnya dengan kondisi ekonomi rumah tangga. Ketika pendapatan yang diterima lebih banyak dari biaya kebutuhan yang harus dipenuhi, maka surplus ekonomi ini menghadirkan opsi seseorang untuk memperoleh pendapatan lebih optimal lagi melalui investasi. Surplus ekonomi ini dapat dialokasikan untuk modal berinvestasi.
Dengan menentukan target dan jangka waktu investasi, memahami profil risiko, memilih instrumen investasi yang strategis, juga melakukan pengelolaan manajemen investasi, maka bukan tidak mungkin modal yang dialokasikan di awal memberikan keuntungan rutin yang menjanjikan.
Dulu investasi identik dengan membutuhkan nominal alokasi dana besar untuk instrumen seperti logam mulia, obligasi, properti, saham, atau deposito. Namun saat ini, siapa pun memiliki opsi untuk investasi menjanjikan dengan modal minim melalui skema equity crowdfunding.
Tidak hanya saham, badan usaha seperti CV, NV, Firma, dan lainnya juga dapat listing penawaran instrumen investasi lain. Caranya adalah dengan skema securities crowdfunding (SCF) yang merupakan pengembangan skema Equity Crowdfunding (ECF).
Equity crowdfunding adalah skema penerbitan efek berupa saham yang ditawarkan kepada investor untuk mendanai pengembangan bisnis UMKM. Sementara dalam securities crowdfunding, instrumen keuangan yang ditawarkan lebih beragam. Mulai dari saham, obligasi, hingga sukuk sehingga investor bisa diversifikasi profil risiko Anda.
LandX merupakan salah satu platform equity crowdfunding yang sedang berproses menjadi securities crowdfunding. Tentunya, platform ini telah berpengalaman melakukan crowdfunding bagi berbagai bisnis potensial di berbagai sektor industri dan telah mengantongi izin dari OJK (Otoritas Jasa Keuangan).
Jadi, kalau kamu ingin meraih kondisi surplus ekonomi dengan mulai berinvestasi dengan skema ini, pastikan untuk berinvestasi melalui platform yang terpercaya, aman, dan pastinya berizin resmi seperti LandX ya!
