25 August 2022
|
8 Min Read
|
Jika dilihat dari gaya hidup milenial yang konsumtif, mengatur financial planning untuk milenial merupakan hal yang wajib dilakukan untuk masa depan yang terjamin.
Mengatur financial planning untuk milenial pada zaman yang serba maju saat ini seharusnya sudah jauh lebih mudah. Walaupun sudah jauh lebih mudah, masih banyak generasi milenial Indonesia yang kurang mahir dalam mengatur keuangannya. Hal ini disebabkan oleh gaya hidup milenial yang terkenal konsumtif, mereka lebih mementingkan keinginan daripada kebutuhan.
Padahal jika gaya hidup milenial menganut perilaku hidup hemat akan menguntungkan di masa yang akan datang. Jika saja generasi ini bisa menekan atau menahan keinginannya dan mereka dapat membuat financial planning untuk milenial dengan baik, pasti kedepannya mereka tidak akan mengalami yang namanya financial stress.
Kali ini kita akan membahas seputar generasi milenial, khususnya dalam masalah keuangan generasi milenial dan cara membuat financial planning untuk milenial demi tercapainya masa depan yang lebih baik. Jadi ikuti terus artikel ini, ya!
Kalian pasti sudah tidak asing lagi kan dengan istilah generasi milenial? Sebenarnya, istilah generasi milenial pertama kali diciptakan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika bernama William Strauss dan Neil Howe yang dituliskan dalam beberapa bukunya. Generasi milenial adalah kalian-kalian yang lahir dalam rentan tahun 1981-1996.
Menurut Sensus Penduduk tahun 2020, Indonesia sedang didominasi oleh generasi Y atau dikenal dengan generasi milenial dan generasi Z. Dari total populasi penduduk Indonesia yang mencapai 270,2 juta jiwa, total jumlah generasi Z mencapai 27,97% atau sebesar 74,93 juta jiwa. Sedangkan total jumlah generasi milenial Indonesia mencapai 25,87% atau sebesar 69,38 jiwa dari seluruh total populasi di Indonesia.
Generasi milenial Indonesia saat ini sedang berada di masa-masa produktifnya, yaitu sedang berada di umur 26-41 tahun. Nah, generasi milenial Indonesia juga disebut-sebut sebagai generasi yang pertama kali merasakan perkembangan teknologi. Dengan hidup yang beriringan dengan perkembangan teknologi membuat generasi ini terkenal dengan perilakunya yang konsumtif.
Generasi ini terkenal sebagai generasi yang lebih mementingkan keinginan ketimbang kebutuhan. Apalagi didorong dengan prinsip FOMO dan gaya hidup YOLO yang kerap diterapkan dalam gaya hidup milenial.
Dengan gaya hidup milenial yang konsumtif ini membuat banyak dari mereka yang mengalami ketidakstabilan dalam financial-nya. Banyak dari mereka ini yang masih belum bisa mengatur financial planning untuk milenial dengan baik.
Padahal dengan merencanakan keuangan masa depan dapat membantu mereka keluar dari financial stress, yaitu keadaan dimana seseorang tidak mampu dalam memenuhi kebutuhan keuangannya sehingga berpengaruh pada psikologi atau emosionalnya.
Nah, tentu kalian tidak mau merasakan ini semua kan? Jadi penting ya kalian dapat mengatur keuangan milenial untuk simpanan di masa mendatang.
Masalah keuangan generasi milenial menjadi permasalahan utama yang kerap dihadapi generasi ini. Semua ini karena mereka menjalani gaya hidup yang konsumtif. Akibatnya tidak jarang keuangan mereka sangat rentan terkena krisis akibat gaya hidup yang diterapkannya itu.
Lalu, apa saja sih masalah keuangan yang kerap menimpa generasi milenial Indonesia? Sekarang kita akan membahas masalah keuangan generasi milenial yang kerap dihadapinya, yaitu:
Tidak sedikit generasi milenial Indonesia yang lebih mementingkan keinginan ketimbang kebutuhan. Salah satu sikap jelek dari generasi ini adalah mereka selalu ingin mengikuti trend, selalu ingin terlihat trendy alias tidak ketinggalan zaman. Namun, sikap ini tidak dibarengi dengan kondisi financial yang memadai.
Untuk memenuhi keinginannya, mereka kerap melupakan kondisi financial-nya. Padahal jika mereka terus-menerus harus mewujudkan keinginannya, maka nantinya kondisi financial atau keuangannya dapat kacau balau dan lebih parahnya lagi mereka sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan utamanya. Tentunya perilaku buruk ini wajib dihindari.
Generasi milenial Indonesia kerap mengeluh lantaran gaji yang diperoleh selalu tidak cukup. Padahal seberapa besar gaji yang mereka peroleh pun selalu tidak cukup, ini karena mereka selalu mengedepankan gengsi dan perilaku konsumtifnya. Alhasil pengeluaran akan jauh lebih besar daripada pendapatan yang mereka terima.
Nah, generasi ini juga masih terbilang sulit dalam mencapai kestabilan financial-nya. Mereka masih belum dapat mencapai kestabilan keuangannya karena mereka masih belum tahu nih cara mengelola gaji yang baik, cara membagi pengeluaran dan pemasukan yang baik, dan sebagainya.
Hal ini terjadi karena financial planning untuk milenial belum dilakukan. Padahal kalau mereka bisa mengatur keuangan dengan baik, pasti akan tercapai kondisi financial yang lebih stabil dan aman.
Masalah keuangan generasi milenial lainnya yang kerap dihadapi ialah tidak jujur dalam keuangan. Maksud dari tidak jujur dalam keuangan adalah mereka yang selalu mengiyakan ajakan teman untuk melakukan apa saja, baik sekedar untuk nongkrong, belanja, kulineran, dan lainnya.
Mereka gengsi untuk berkata jujur seputar kondisi keuangan yang sedang dialami. Jika sifat ini secara terus menerus dipertahankan, maka nantinya kondisi keuangan generasi ini selalu rentan terhadap krisis.
Sifat jelek lainnya dari generasi milenial adalah mereka selalu mengharapkan validasi atau pengakuan dari sekitar. Agar mendapat pengakuan, mereka selalu berusaha sekuat tenaga untuk terlihat edgy atau selalu ingin terlihat keren, serta ingin terlihat mewah atau kaya di mata orang lain.
Makanya untuk mendapat validasi, tidak jarang mereka rela untuk mengeluarkan duit yang tidak sedikit tanpa melihat kondisi financial terlebih dahulu.
Jika ternyata kondisi financial-nya tidak mumpuni tetapi mereka tetap memaksa harus terlihat mewah, ya sudah berarti nantinya mereka dapat mengalami krisis dalam keuangannya.
Nah, dari masalah keuangan generasi milenial yang telah kita bahas sebelumnya, sudah sepatutnya generasi milenial Indonesia dapat mengatur financial planning agar terciptanya kondisi financial yang stabil di masa mendatang. Bagaimana sih cara mengatur keuangan milenial yang baik dan mudah untuk diterapkan?
Berikut ini beberapa cara mengatur financial planning untuk milenial, yaitu:
Langkah awal dalam mengatur financial planning untuk milenial adalah dengan memahami kondisi keuangan sendiri. Ketika generasi milenial telah mengetahui besaran penghasilan yang mereka dapat dan total pengeluaran yang pasti dan tidak pasti akan dikeluarkan, tentu mereka dapat mengatur jumlah uang yang akan dipakai dan akan disisihkan.
Trik untuk membantu milenial mengatur keuangannya agar mereka dapat mengetahui kondisi keuangannya sendiri adalah dengan membagi menjadi beberapa bagian dari penghasilan yang mereka miliki. Mereka bisa menerapkan rumus 40-30-20-10 dalam mengatur keuangan, yakni 40% dana untuk kebutuhan sehari-hari, 30% untuk memenuhi kewajiban (utang), 20% untuk investasi dan tabungan, dan 10% untuk keperluan sosial.
Dengan begitu mereka telah mengetahui kondisi keuangan sendiri dan mereka akan meminimalisir segala hal-hal tidak penting yang akan merusak kondisi keuangan mereka.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, salah satu sifat jelek dari generasi milenial adalah memiliki gaya hidup konsumtif dengan selalu mengedepankan keinginan ketimbang kebutuhan. Nah, gaya hidup milenial yang satu ini jelas harus dihindari. Jangan sampai perilaku konsumtif ini dipertahankan, karena akan membawa efek buruk pada keuangan di masa mendatang.
Coba untuk menahan diri selama beberapa hari untuk tidak membeli barang-barang yang tidak penting.
Penting bagi generasi milenial membuat perencanaan keuangan untuk jangka panjang. Siapkanlah dana milenial untuk jangka panjang, seperti menyiapkan dana pensiun untuk hari tua, menyiapkan dana untuk ditabung, dan lain sebagainya.
Dengan menyusun rencana keuangan untuk jangka panjang nantinya kaum milenial sudah tidak perlu khawatir lagi soalkondisi financial-nya di masa mendatang. Kondisi keuangan mereka menjadi lebih terjamin dengan adanya perencanaan jangka panjang.
Menyiapkan dana darurat merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan oleh generasi milenial. Karena bisa saja di masa mendatang mereka terkena kejadian yang tidak terduga, misalnya seperti kehilangan pekerjaan. Dengan kejadian tersebut pasti mereka membutuhkan dana darurat untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Namun, jika mereka tidak memiliki dana darurat, pasti mereka mau tidak mau akan melakukan pinjaman untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya. Tentunya hal ini membuat kondisi financial mereka menjadi lebih buruk lagi, sudah tidak ada dana darurat, ditambah melakukan pinjaman pula.
Oleh karena itu, penting sekali memiliki dana milenial yang dapat disisihkan khusus untuk dana darurat.
Tahapan terakhir dalam financial planning untuk milenial adalah dengan memulai investasi. Alangkah lebih baik jika generasi milenial mulai melek akan kegiatan investasi. Mereka dapat mulai dengan menyisihkan 10-20% dana yang mereka miliki untuk berinvestasi. Nantinya investasi ini menjadi simpanan untuk jangka panjang.
Dengan berinvestasi mereka akan mengurangi perilaku konsumtif, karena milenial ini akan lebih memilih memakai duitnya untuk simpanan jangka panjang, daripada dipakai untuk kesenangan jangka pendek. Berbagai instrumen investasi yang dapat mereka pilih yang di antaranya terdapat saham, reksa dana, obligasi, emas, dan sebagainya.
Tapi memang mereka yang baru memulai investasi pasti akan menghadapi beberapa risiko yang ada. Apalagi bagi mereka yang memulai tanpa mengetahui seputar investasi dan instrumennya terlebih dahulu, pasti mereka akan memiliki risiko kerugian yang tinggi.
Oleh karena itu, sebelum memulai investasi ada baiknya milenial mengetahui tujuan investasi mereka dan mengenal instrumen investasi yang cocok dengan profil risiko mereka.
Salah satu investasi yang dapat generasi milenia coba adalah investasi dengan sistem equity crowdfunding. Nantinya, milenial berkesempatan menjadi salah satu pemilik bisnis potensial melalui sistem ini.
Melalui sistem equity crowdfunding, mereka akan menanamkan modalnya secara patungan dengan beberapa investor lain pada bisnis yang telah dipilih dan cocok dengan profil mereka. Lalu, mereka berpotensi mendapatkan keuntungan berupa dividen dari bisnis yang sudah didanai.
LandX menjadi salah satu platform equity crowdfunding yang telah memiliki market cap terbesar se-Indonesia, berpengalaman, dan telah mengantongi izin dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Bagi generasi milenial yang tertarik untuk berinvestasi dengan pendanaan secara patungan ini, bisa banget lho!
Yuk, segera download aplikasi LandX dan danai bisnisnya!