15 November 2022
|
5 Min Read
|
Investasi rugi memang hal yang tidak disukai investor. Terdapat jenis investor risk averse yang cenderung menghindari risiko dan meminimalisir kerugian investasi. Bagaimana strategi risk aversion? Scroll lebih lanjut untuk cari tahu
Setiap kegiatan investasi memang selalu ada risiko yang mengirinya, sehingga sangat normal jika kamu khawatir dengan potensi risiko terutama sebagai investor pemula. Jika kamu seorang yang berhati-hati dan ingin berinvestasi pada instrumen investasi minim risiko saja maka kamu termasuk kategori investor risk aversion.
Seperti kata pembentuk risk aversion yaitu risiko dan averse artinya enggan atau menolak, maka risk aversion adalah kategori investor yang enggan dengan risiko investasi. Investor tipe risk averse lebih memilih berinvestasi pada instrumen investasi minim risiko.
Seperti apa strategi investor risk averse? Apa perbedaan antara risk averse dan risk seeker? Yuk pelajari lebih lanjut tentang risk averse dalam investasi berikut ini!
Risk averse merupakan konsep dalam ekonomi dan keuangan yang muncul dalam bentuk sikap seorang investor ketika dihadapkan dengan ketidakpastian. Ketika seorang investor risk aversion dihadapkan dengan ketidakpastian atau risiko maka ia akan lebih memilih menghindarinya. Sehingga investor risk aversion disebut juga investor konservatif.
Maka risk aversion adalah kecenderungan investor untuk menghindari risiko dan meminimalisir kerugian. Kenapa seseorang enggan dan sangat takut dengan potensi risiko investasi?
Ada banyak alasan mengapa seorang investor menghindari risiko. Beberapa orang mungkin tidak ingin mengambil risiko sama sekali karena masih baru dan sedang memahami dunia investasi, sementara yang lain mungkin takut akan kehilangan uang.
terdapat juga investor yang memiliki pengalaman dengan usaha bisnis yang gagal di masa lalu membuatnya takut bahwa investasi akan menghasilkan hal yang sama. Apapun alasannya, penting bagi setiap investor untuk mengetahui cara menghadapi potensi risiko investasi dan memahami manajemen risiko investasi.
Seorang investor risk averse lebih mengutamakan keamanan investasi daripada keuntungan besar. Sehingga investor risk averse dalam investasi cenderung memilih instrumen investasi yang likuid atau mudah untuk dicairkan jadi cash kembali.
Strategi investor risk averse adalah memilih investasi minim risiko atau memberikan potensi keuntungan jelas dan pasti seperti obligasi fixed rate, deposito, dan menabung di bank. Strategi investor risk averse lainnya yaitu melakukan diversifikasi portofolio.
Dikarenakan tujuan risk averse adalah meminimalisir kerugian maka dibanding menaruh seluruh dana pada satu jenis atau instrumen investasi, lebih baik menaruh dana dengan membaginya pada beberapa jenis instrumen investasi yang memiliki tingkat risiko berbeda.
Dilansir Investopedia, risk averse cenderung memilih investasi yang memiliki return stabil walaupun pertumbuhan lamban. Sehingga terdapat pro-kontra risk averse dalam investasi sebagai berikut:
Karena strategi yang digencarkan investor risk averse adalah memilih instrumen investasi minim risiko dan melakukan diversifikasi portofolio maka hal ini dapat membantu menerapkan manajemen risiko investasi yang dapat meminimalisir risiko kerugian.
Salah satu opsi investasi yang disenangi risk aversion adalah investasi yang menawarkan pengembalian atau return pasti seperti obligasi fixed rate. Obligasi fixed rate adalah obligasi yang menawarkan kupon (tingkat pengembalian) tetap hingga jatuh tempo.
Dengan berbagai pilihan dalam investasi risk averse yang memilih instrumen pengembalian yang jelas maka besar potensi arus kas selalu masuk dan menjadi passive income. Serta tabungan yang terjaga di bank yang dapat diakses kapanpun.
Selain keuntungan berinvestasi dengan strategi risk averse, terdapat kelemahan risk averse yaitu berpotensi melewatkan peluang keuntungan besar. Karena risk averse tidak terlalu menyenangi opsi investasi fluktuatif seperti saham, apabila sentimen pasar sedang mendukung suatu saham yang menyebabkan keuntungannya meningkat maka hal ini tidak berdampak pada risk averse yang tidak memiliki portofolio saham.
Sehingga penting untuk mempertimbangkan strategi diversifikasi portofolio yang tidak hanya dapat meminimalisir kerugian namun juga berpotensi memaksimalkan keuntungan.
Setiap investor tentu tidak suka risiko kerugian namun tidak seperti investor risk averse yang sangat enggan rugi dan memilih opsi investasi aman dan cenderung pasti, seorang risk seeker memiliki tingkat toleransi risiko lebih tinggi.
Risk seeker adalah investor yang senang dengan jenis investasi memiliki risiko tinggi jika keuntungan investasi yang ditawarkan juga tinggi. Investor risk seeker biasanya merupakan jenis profil investor agresif. Oleh karena itu, investor risk seeker biasanya berinvestasi pada aset fluktuatif seperti saham, kripto, bahkan banyak yang aktif sebagai trader.
Jika diilustrasikan seorang investor risk averse akan lebih memilih menabung atau berinvestasi pada aset dengan return jelas seperti obligasi fixed rate. Seperti penerbitan ORI (obligasi negara ritel) pada September 2022 lalu yang menawarkan tingkat pengembalian tetap sebesar 5,95% per tahun.
Sedangkan investor risk seeker akan lebih memilih berinvestasi pada saham. Walaupun dikenal fluktuatif atau pergerakan naik-turun harga sama dapat berubah setiap waktunya, terdapat potensi pengembalian yang juga besar. Namun layaknya sifat saham yang sensitif akan perubahan yang dipengaruhi banyak faktor, terdapat juga potensi harga saham turun sehingga perlu memersiapkan diri antisipasi risiko.
Terlihat perbedaan risk averse dan risk seeker adalah tingkat toleransi terhadap risiko. Walaupun sama-sama berharap jauh dari kerugian investasi, namun pemilihan jenis investasinya akan berbeda.
Terdapat juga istilah risk neutral yaitu investor yang tidak terlalu mempermasalahkan tingkat risiko investasi. Investor risk neutral hanya akan memilih investasi yang menawarkan peluang tertinggi.
Setiap investasi membawa risiko, semakin tinggi potensi pengembaliannya (return/keuntungan) maka semakin besar risikonya. Terdapat investor yang mungkin enggan mengambil risiko tinggi karena mereka ingin memastikan bahwa mereka memiliki cukup uang yang disisihkan untuk masa depan mereka.
Sikap investor konservatif yang enggan dengan risiko investasi inilah disebut risk aversion. Investor risk aversion mungkin juga takut dengan berinvestasi pada suatu instrumen berisiko tinggi akan menyebabkan potensi kehilangan uang dan nantinya mereka tidak akan memiliki cukup uang jika mereka membutuhkannya di masa depan.
Beberapa instrumen investasi yang disenangi oleh seorang risk averse adalah investasi obligasi fixed rate, deposito, hingga menabung dengan tingkat pengembalian kecil namun pasti. Investor risk aversion adalah seseorang yang lebih mengutamakan keamanan dan minim potensi kerugian.
Kegiatan meminimalisir potensi kerugian ini juga merupakan bagian dari manajemen risiko investasi. Salah satu strategi yang banyak disarankan untuk meminimalisir risiko adalah dengan melakukan strategi diversifikasi portofolio investasi.
Diversifikasi portofolio investasi adalah kegiatan menaruh modal pada beberapa jenis instrumen investasi dengan tingkat return dan jangka waktu yang berbeda-beda. Selain investasi pada obligasi, reksa dana, dan deposito, kamu juga bisa berinvestasi pada saham bisnis privat melalui skema equity crowdfunding.
Equity crowdfunding adalah pendanaan proyek bisnis dari masyarakat dengan bentuk kepemilikan saham. Saham bisnis di equity crowdfunding berbeda dengan saham di bursa efek. Saham di equity crowdfunding hanya tersedia pada penawaran saham kurun waktu 45 hari dan tingkat keuntungan berupa return dividen yang berdasarkan performa bisnis yang dimodali.
Jika kamu tertarik diversifikasi portofolio dengan investasi equity crowdfunding maka kamu dapat kenalan dengan platform equity crowdfunding terdepan di Indonesia yaitu LandX.