14 November 2022
|
5 Min Read
|
Ada kalanya kita menjadi panik jika harga saham turun, apakah sebaiknya cut loss, hold, atau stop loss ya? Cut loss adalah bagian dari manajemen risiko untuk memotong kerugian dengan cara menjual saham. Faktor penentu kapan cut loss saham dan cut loss trading dilihat dari prospeknya. Caranya? Yuk cari tahu dalam artikel ini.
Tidak peduli apakah kamu seorang investor aktif atau pasif, salah satu hal terpenting untuk dipelajari tentang berinvestasi di saham dan trading adalah tentang manajemen risiko. Tujuan manajemen risiko dilakukan agar kamu dapat meminimalisir kerugian dan meningkatkan potensi keuntungan investasi.
Salah satu cara manajemen risiko yang dapat dilakukan adalah dengan mengetahui kapan waktunya untuk cut loss. Cut loss adalah aktivitas memotong atau menghentikan kerugian pada investasi saham maupun trading. Cut loss saham dan cut loss trading dilakukan dengan cara menjual investasi yang tidak berkinerja sebaik yang kamu harapkan dan beralih ke peluang lain.
Apa itu cut loss dalam saham dan kapan harus cut loss? Yuk cari tahu berikut ini!
Cut loss adalah istilah yang digunakan di pasar saham dan trading. Cut loss dilakukan ketika kamu menemukan bahwa investasi tidak berjalan dengan baik kemudian menentukan inilah waktu terbaik untuk memotong (menghentikan) kerugian dan keluar. Cut loss dilakukan dengan menjual saham pada harga yang lebih rendah dari harga pembeliannya.
Seperti pembentuk katanya, cut berarti potong dan loss artinya kerugian maka cut loss adalah aktivitas memotong kerugian di dalam perdagangan saham maupun trading.
Buat kamu yang pernah berinvestasi pada saham maupun aktif sebagai trader kripto pasti pernah melihat grafik pergerakan harga yang turun. Kalo harga saham turun kamu biasanya ngapain? Langsung jual sahamnya walaupun rugi atau sahamnya didiemin dulu aja nunggu pasar membaik tapi terdapat risiko makin turun?
Ketika harga saham turun dari harga saat kamu membeli di awal dan kamu memutuskan menjualnya maka hal tersebut merupakan aktivitas cut loss. Sedangkan jika kamu mendiamkan sahamnya walaupun harga sedang turun, dengan harapan pasar akan membaik dan memiliki tujuan investasi jangka panjang maka aktivitas tersebut disebut sebagai hold.
Menentukan kapan harus cut loss dan hold didasarkan pada hal penting seperti melihat prospek saham dan fundamental perusahaan. Maksudnya?
Portofolio merah memang bukan hal favorit setiap investor namun sebagai investor yang cerdas kamu harus memiliki strategi untuk menanggapinya. Sebelum kamu menentukan kapan harus cut loss maka kamu harus menganalisis dulu prospek sahamnya dan lihat kembali fundamental perusahaannya.
Selain itu, jika kerugian kamu cukup signifikan sehingga kamu merasa dapat menyebabkan kesulitan keuangan, inilah saatnya untuk cut loss.
Untuk menjawab waktu terbaik cut loss juga didasari oleh masing-masing profil risiko investasi seseorang, seberapa besar kamu dapat menanggung kerugian. Misal pada trading kripto yang cenderung sangat fluktuatif, maka seorang trader harus siap dengan kemungkinan yang terjadi. Jika pergerakan pasar sedang turun atau market bearish maka kamu harus siap memotong kerugian atau cut loss trading dan mempertahankan modal yang ada.
Ide di balik strategi cut loss adalah menghentingkan kerugian lebih lanjut ketika harga saham terus turun setelah transaksi awal. Misalkan kamu berinvestasi pada saham XXYZ dengan harga Rp10.000/lembar saat beli namun seiring waktu harga sahamnya ternyata turun jadi Rp1.000/lembar, di sini kamu terlihat posisi saham kamu sudah rugi.
Daripada menanggung rugi lebih lanjut dan modal hilang keseluruhannya maka kamu memutuskan untuk jual rugi saham atau cut loss. Setidaknya terdapat sisa modal untuk diinvestasikan kembali pada peluang lain.
Tapi, ada poin penting untuk kamu pahami sebelum memutuskan cut loss yaitu menganalisis prospek saham dan fundamental perusahaannya. Bisa jadi saham yang kamu investasikan adalah saham dari perusahaan yang memiliki histori keuangan yang baik namun sedang turun karena faktor krisis ekonomi yang berpotensi pulih.
Jika histori keuangan maupun prospek saham perusahaan yang kamu investasikan tidak menunjukkan kabar baik karena terdisrupsi oleh berbagai faktor maka cut loss dapat menjadi strategi terbaik untuk dipilih
Cut loss dan stop loss merupakan aktivitas yang sama-sama bertujuan membatasi kerugian investasi. Namun perbedaan cut loss dan stop loss terdapat sistemnya yaitu manual pada cut loss dan otomatis pada stop loss.
Seperti yang telah dijelaskan tentang apa itu cut loss, cut loss adalah memotong kerugian investasi dengan cara keluar dan menjual saham. Cut loss dilakukan oleh investor maupun trader secara manual di platform sekuritas tempat berinvestasi.
Perbedaan cut loss dengan stop loss adalah stops dilakukan secara otomatis. Stop loss biasanya ditetapkan oleh trader di awal transaksi dengan menentukan harga jual jika harga saham turun di angka yang telah ditetapkan juga.
Contoh kasus cut loss dan stop loss misalnya kamu membeli saham XXYZ di harga Rp10.000 per lembar kemudian berselang waktu sebelum perdagangan tutup harga saham turun menjadi Rp7.000 per lembar.
Pada cut loss, kamu akan menentukan sendiri di waktu tersebut apakah ingin menjual saham tersebut langsung (cut loss saham) atau melakukan hold dengan melihat prospek dan fundamental perusahaan yang baik.
Sedangkan pada stop loss, sebelum membeli saham kamu sudah menentukan dari awal melalui sistem/software jika harga saham yang dibeli kemudian turun menjadi Rp7.000 per lembar maka akan otomatis terjual.
Dengan memahami konsep cut loss dan mengetahui kapan waktu cut loss ditentukan dengan mempertimbangkan prospek dan fundamental perusahaan maka kamu telah menjalankan strategi manajemen risiko investasi.
Ketika pergerakan harga saham menukik dan prospek saham terlihat mendung maka cut loss dapat menjadi pilihan terbaik untuk melindungi dan mempertahankan modal yang ada.
Selain manajemen risiko dengan cut loss, terdapat juga manajemen risiko dengan diversifikasi investasi. Diversifikasi investasi adalah strategi menaruh modal pada beberapa instrumen investasi, seperti saham, obligasi, reksa dana, hingga crowdfunding.
Investasi crowdfunding adalah investasi pada saham perusahaan bisnis privat. Saham bisnis melalui crowdfunding hanya dapat dibeli pada saat waktu penawaran dibuka maksimal 45 hari sesuai aturan OJK. Setiap pemegang saham bisnis melalui crowdfunding berpotensi menerima keuntungan dividen berkala sesuai performa bisnis yang dimodali.
Jika kamu tertarik diversifikasi portofolio dengan investasi melalui crowdfunding kini tersedia pilihan bisnis privat melalui platform crowdfunding terdepan di Indonesia yaitu LandX.