26 September 2022
|
6 Min Read
|
Hampir semua instrumen investasi memiliki risiko. Kalau kamu termasuk golongan investor konservatif yang ingin berinvestasi minim risiko, kamu perlu memilih instrumen risk free rate yang akan dibahas pada artikel ini.
Risk Free Rate (RFR) adalah pengembalian instrumen bebas risiko yang merupakan komponen penting dalam investasi. Meskipun kegiatan investasi tentunya mengandung risiko, suatu aset dapat dikatakan sebagai risk-free asset jika aset tersebut terdapat kepastian return atau pengembalian pada masa yang akan datang.
Bagi investor, instrumen bebas risiko akan memberikan manfaat untuk mereka, salah satunya nilai portofolio investor menjadi stabil. Meskipun risk-free rate hanyalah sekadar konsep, investor yang mampu memperhitungkan dan mengerti mengenai real risk-free rate akan berguna ketika melakukan investasi.
Jadi, apa itu risk free rate? Bagaimana cara mengetahui risk free rate dan cara menghitung risk free rate? Simak artikel ini baik-baik yuk.
Risk free rate adalah tingkat pengembalian atau keuntungan (return) yang diperoleh investor dari jenis aset investasi bebas risiko (risk-free assets). Melansir dari Forbes, ketika investasi yang dilakukan tidak mengandung risiko, maka investor mendapatkan risk free rate tersebut. Jenis investasi apa yang menawarkan tanpa risiko? Di Amerika Serikat, obligasi pemerintah AS merupakan instrumen investasi yang dianggap bebas risiko karena pemerintah federal tidak pernah gagal membayar utangnya.
Untuk investor, konsep risk free rate dapat diandalkan pasalnya berinvestasi sendiri memiliki risikonya masing-masing. Jika kamu memiliki ciri investor yang konservatif atau investor ingin mempertahankan nilai portofolio, maka instrumen risk free rate dapat dimanfaatkan karena investasinya cenderung stabil. Namun, dengan begitu instrumen ini memungkinkan potensi kerugian meskipun peluangnya sangat kecil.
Dari berbagai pilihan instrumen investasi risk free rate di Indonesia, biasanya deposito dan obligasi negara merupakan kategori investasi risk free rate atau investasi bebas risiko. Pasalnya kedua instrumen ini perlu memiliki keterampilan khusus seperti saham, atau reksa dana yang membutuhkan manajer investasi.
Selain itu, keduanya menjanjikan imbal hasil yang pasti. Meski begitu, keduanya memiliki karakteristik yang berbeda yang akan dibahas sebagai berikut.
Deposito hampir mirip dengan memiliki tabungan pada bank, yang membedakannya adalah deposito merupakan produk simpanan di bank namun untuk penarikan dan penyetorannya berdasarkan waktu tertentu. Deposito memiliki tingkat suku bunga dan nominalnya dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hingga Rp2 miliar yang menjadikan patokan Risk-Free Rate di Indonesia.
Selain itu menempatkan uang dalam bentuk deposito memiliki kerugian relatif rendah dibandingkan mengalokasikan uang pada pasar saham, karena deposito tidak terpengaruh dengan pergerakan pasar.
Seperti di negara Amerika, banyak menganggap bahwa obligasi negara merupakan instrumen risk free. Sebab penerbit instrumen itu adalah pemerintah dan kecil kemunginan akan mengalami gagal bayar. Obligasi adalah surat utang jangka menengah dan jangka panjang yang dapat diperjualbelikan dan dapat diterbitkan oleh pemerintah maupun perusahaan.
Dengan membeli obligasi kamu terlibat dalam pembiayaan proyek tertentu yang diselenggarakan oleh negara maupun korporasi. Return investasi obligasi adalah besaran imbal hasil (yield) yang diperoleh tergantung pada besaran bunga yang disetujui pada perjanjian awal membeli obligasi.
Obligasi negara diantaranya adalah SPN atau Surat Perbendaharaan Negara yang jatuh temponya kurang dari 1 tahun, untuk yang puluhan tahun biasanya dikenal SUN atau Surat Utang Negara dan Sukuk. Selain itu obligasi negara juga terdapat mata uangnya Rp dan USD, ada yang memiliki bunga tetap dan variable. Selain itu ada juga obligasi untuk investor perorangan yang dikenal dengan Sukuk Ritel.
Biasanya obligasi yang dapat dibeli melalui pasar sekunder pada waktu tertentu saat penawaran perdana (IPO) berlangsung. Harga obligasi dipengaruhi pasar, meskipun obligasi pada saat jatuh akan dibayar senilai pokoknya. Investor yang melakukan jual-beli obligasi negara sebelum jatuh tempo memiliki potensi mendapatkan capital gain atau loss.
Selain itu, ada juga referensi lain sebagai instrumen risk free rate oleh lembaga resmi Bank Indonesia seperti INDONIA (Indonesia Overnight Index Average) dan JIBOR (Jakarta Interbank Offered Rate). INDONIA dan JIBOR merupakan suku bunga yang terjadi di pasar uang, dihitung secara periodik, dan tersedia dan dapat digunakan oleh pelaku pasar sebagai referensi penetapan suku bunga pinjaman, pengukuran kinerja instrumen keuangan dan penetapan harga.
Melansir laman Bank Indonesia, INDONIA merupakan indeks suku bunga atas transaksi pinjam-meminjam rupiah tanpa agunan yang dilakukan antar bank untuk jangka waktu overnight di Indonesia. Sedangkan JIBOR merupakan rata-rata suku bunga indikasi pinjaman tanpa agunan yang ditawarkan oleh bank kontributor kepada bank kontributor lainnya yang meminjamkan rupiah untuk tenor di atas overnight Indonesia.
Bank Indonesia selaku bank sentral perlu mengendalikan jumlah uang beredar sebagai salah satu instrumen pengendalian inflasi. Ketika jumlah uang beredar di masyarakat sedang tinggi dan inflasi pun naik, BI akan menaikkan tingkat suku bunga acuannya. BI-7 day reverse repo rate merupakan acuan baru yang menggantikan BI Rate per Agustus 2016 lalu.
BI-7 day reverse repo rate merupakan instrumen risk free rate Bank Indonesia dikarenakan BI-7 day rate merupakan suku bunga untuk SBI (Sertifikat Bank Indonesia) yang bertenor 7 hari serta kelipatannya, maka dari itu dinamakan reverse repo. Suku bunga acuan ini akan lebih rendah dari BI Rate karena tenornya lebih singkat daripada SBI selama 12 bulan.
Cara mengetahui risk free rate biasanya merupakan instrumen yang memiliki jaminan dari pemerintah dengan undang-undang yang sudah dijamin oleh pemerintah. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, perlu diketahui juga bahwa terdapat dua jenis risk free rate, yaitu nominal risk free rate dan real risk free rate.
Untuk nominal risk free rate ini mengandung unsur inflasi di dalamnya, seperti interest rate dari Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Untuk real risk free rate merupakan interest rate dari risk free asset yang sudah mengeluarkan unsur inflasi di dalamnya. NRFR (nominal risk free rate) dapat berubah-ubah sesuai dengan kondisi negara tersebut dan tingkat inflasi yang sedang terjadi pada negara.
Nah, jika ingin menghitung estimasi keuntungan dari investasi, kamu bisa menggunakan model CAPM yang sudah banyak digunakan. CAPM sendiri adalah Capital Asset Pricing Model yang digunakan untuk menentukan hubungan sistematis antara risiko dan perkiraan pengembalian dari aset.
Cara menghitung risk free rate tadi, bisa menggunakan BI-7 day repo rate, dikarenakan SBI sebagai investasi bebas risiko oleh investor. Untuk memperoleh data BI 7 sendiri bisa langsung mengakses laman resmi Bank Indonesia. Kamu bisa mengklik pilihan menu Statistik, lalu mengklik Indikator dan laman yang terlampir akan seperti ini:
Per 22 September 2022, BI-7 Day RR adalah 4,25% jika dijadikan angka maka diketahui Rf = 0,0425. Dalam melakukan pertimbangan pengembalian data, perlu memastikan bahwa data yang diambil merupakan data yang paling baru atau sudah diperbaharui. Selain itu juga, cara mengetahui risk free rate dengan mengacu spesifikasi obligasi, hanya saja untuk mengakses data obligasi ini diperlukan biaya tambahan lagi karena sulit untuk diakses secara publik.
Risk free rate adalah tingkat imbal hasil bebas risiko dikarenakan mendapatkan jaminan dari pemerintah yang sudah disesuaikan dalam peraturan undang-undang. Penerapan risk free rate perlu disesuaikan juga dengan investor itu sendiri, karena untuk mengaksesnya seperti obligasi negara cukup sulit dan akan memakan biaya yang cukup besar. Untuk memudahkannya, Bank Indonesia menerapkan acuan suku bunga BI 7-day reverse repo yang merupakan instrumen risk free rate Indonesia.
Dalam melakukan investasi perlunya penyesuaian kondisi finansial, profil risiko dan memiliki pengetahuan instrumen yang nanti akan membantu kamu memanfaatkan investasi kamu secara optimal dan meraup keuntungan sesuai harapan. Selain itu, jika kamu ingin memiliki investasi keuangan minim risiko, pendanaan equity crowdfunding mungkin akan cocok untuk kamu.
Dengan sistem equity crowdfunding, kamu bisa memilih pendanaan ke berbagai bisnis potensial dari variasi industri yang ingin kamu miliki dengan modal Rp 1 juta. Equity crowdfunding ini merupakan metode investasi yang melakukan pendanaan bersama investor lain, secara bersama-sama mendanai bisnis yang tadi kamu pilih dan sesuai dengan profil risiko kamu.
Melalui aplikasi equity crowdfunding seperti LandX yang sudah berpengalaman mendanai bisnis potensial di Indonesia dan mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan, kamu akan mendapatkan keuntungan berupa dividen dan selain itu, bisnis yang kamu danai akan berkembang dan dapat melakukan ekspansi. Investasi kamu pun akan mendapatkan keuntungan sesuai performa bisnis dan mendapatkan keuntungan.