20 May 2022
|
6 Min Read
|
Bagaimana cara memaksimalkan keuntungan obligasi? Yuk simak artikel ini untuk tahu lebih lanjut jenis, keuntungan, dan tips investasi melalui obligasi.
Apa yang dimaksud dengan obligasi adalah surat hutang jangka menengah panjang yang dapat dipindahtangankan. Dengan kata lain, penerbit obligasi adalah debitur, sementara pembeli obligasi adalah kreditur atau investor.
Kamu meminjamkan uang kepada negara atau suatu perusahaan yang menerbitkan jenis obligasi/surat hutang. Lalu, bunga dari nominal yang dipinjamkan adalah bentuk keuntungan obligasi yang dapat diterima oleh investor.
Namun jelasnya, prospek keuntungan obligasi seperti apa yang bisa didapat oleh investor? Sebelum memahami hal ini, kamu perlu tahu secara detail tentang jenis obligasi atau surat hutang, sistem return dalam obligasi, dan opsi investasi lain yang tidak kalah menjanjikan dibanding dengan keuntungan obligasi. Baca terus artikel ini ya!
Dalam praktik investasinya, jenis obligasi dibedakan menjadi beberapa jenis. Dilansir dari OJK, terdapat tiga jenis investigasi obligasi seperti berikut.
Nama lain dari jenis obligasi pemerintah adalah Treasury Bond. Di mana pemerintah akan menerbitkan kupon obligasi dengan seri Fixed Rate, Variable Rate, juga obligasi bersifat Syariah atau yang disebut dengan Sukuk Negara.
Obligasi jenis ini Obligasi korporasi merupakan surat hutang yang dikeluarkan oleh perusahaan swasta maupun pemerintah seperti BUMN. Sama seperti obligasi pemerintah, obligasi ini juga dikeluarkan dalam beberapa jenis kupon yaitu seri Fixed Rate, Variable Rate, dan obligasi dengan prinsip syariah.
Jenis ini merupakan surat hutang yang dikeluarkan oleh pemerintah yang dijual kepada individu melalui agen penjualan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Jenis obligasi ini biasanya diperjualbelikan dengan jenis ORI dan Sukuk Ritel.
Sebagai investor, keuntungan obligasi didapat dari bunga yang dibayarkan negara atau perusahaan setiap bulannya. Untuk lebih jelasnya, berikut penjelasan poin-poin keuntungan obligasi.
Dalam dunia investasi, saham dan obligasi adalah dua jenis investasi yang memiliki tingkat peminat yang cukup tinggi. Meskipun keuntungan obligasi dan saham sama-sama menjanjikan, kamu harus tahu beberapa perbedaannya, termasuk juga pemahaman tentang instrumen investasi reksa dana. Berikut penjelasannya.
Jika kamu berinvestasi dengan membeli saham sebuah perusahaan, artinya kamu langsung memiliki sebagian porsi perusahaan. Sementara itu, obligasi adalah tanda bukti pengakuan hutang antara penerbit surat dan pemegang surat. Penerbit surat sebagai pemilik hutang dan pemegang surat sebagai investor.
Lalu, reksadana merupakan kumpulan produk investasi dikelola oleh manajer investasi. Sehingga perbedaan fungsinya adalah, jika kamu menanamkan modal pada reksa dana, bentuk investasinya bisa berwujud ke dalam berbagai instrumen keuangan. Mulai dari surat hutang, obligasi, deposito, dan sebagainya.
Singkatnya lagi, surat saham adalah bukti sah kepemilikan perusahaan. Sedangkan bagi pemegang surat obligasi, ini tidak berfungsi sebagai tanda kepemilikan sah porsi perusahaan, melainkan bukti piutang saja.
Sementara itu, reksa dana adalah pilihan instrumen investasi di mana kamu bisa mengalokasikan dana investasi ke dalam berbagai instrumen keuangan seperti surat hutang, deposito, maupun saham untuk dikelola oleh manajemen investasi dari platform penyelenggara.
Nantinya, nominal keuntungan obligasi atau surat hutang, deposito, maupun saham yang diinvestasikan melalui reksa dana bisa diambil melalui platform penyedia jasa pengelolaan investasi tersebut.
Kamu bisa membeli saham-saham oleh perusahaan terbuka (Tbk) yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan perantaraan perusahaan sekuritas. Sekuritas ini adalah broker yang memiliki legalitas untuk menjadi mediator dalam membeli saham maupun menjual saham yang kamu inginkan.
Sementara itu, obligasi bisa diterbitkan oleh korporasi atau juga pemerintah. Umumnya, surat hutang bisa dibeli melalui pasar perdana, yakni melalui perusahaan efek ketika obligasi tersebut pertama kali ditawarkan ke masyarakat.
Perbedaan obligasi dan saham yang kedua adalah faktor yang menentukan harga jualnya. Jika terjadi inflasi, perubahan kondisi politik, atau gejolak kondisi ekonomi dalam suatu negara, harga jual dan beli saham akan mengalami perubahan secara signifikan.
Dapat dikatakan bahwa harga saham yang dibeli langsung di pasar modal sangat rentan terhadap perubahan kondisi, sehingga risiko yang Anda hadapi biasanya lebih besar. Sementara itu, keuntungan obligasi ini menawarkan harga yang lebih stabil meskipun dihadapkan dengan berbagai kondisi yang memengaruhi ketidakstabilan perekonomian.
Lalu, jika kamu berinvestasi reksa dana, tingkat risiko instrumen keuangan mana pun bisa dikatakan lebih rendah dibanding dengan beli saham atau obligasi secara langsung. Karena dana kamu akan dikelola oleh manajer investasi dari sebuah platform penyedia jasa pengelolaan investasi.
Perbedaan yang selanjutnya adalah perbandingan kepastian keuntungan obligasi dengan saham. Jika kamu membeli saham, sebagai investor kamu akan mendapatkan dividen yang merupakan persentase keuntungan berdasarkan jumlah saham yang dimiliki dan pendapatan perusahaan dalam kurun waktu tertentu. Dividen ini jumlahnya tidak tentu, bergantung pada laba yang didapatkan perusahaan.
Sementara mengenai keuntungan obligasi, karena investor dapat memilih panjang dan jangka waktu obligasi sesuai ketentuan yang diinginkan, kamu bisa tahu persis berapa nominal keuntungan obligasi atau uang yang akan didapatkan kembali pada akhir masa atau “jatuh tempo”.
Dapat dikatakan, untuk mendapat keuntungan obligasi, kamu hanya perlu melihat bunga dan pokok pinjaman yang wajib dilunasi. Tentunya, tanpa perlu tergantung pada keuntungan maupun kerugian perusahaan penerbit surat.
Namun, jika kamu investasi di reksa dana, keuntungan obligasi yang didapatkan akan dikenakan fee untuk agen pengelola manajemen investasi tersebut. Selain itu, biasanya kamu juga akan dikenakan potongan setiap akan melakukan penarikan dana.
Sebelumnya, hanya perusahaan besar (Tbk) yang dapat listing saham dan obligasi langsung di Bursa Efek Indonesia atau melalui platform reksa dana. Saat ini, badan usaha seperti CV, NV, Firma, dan lainnya juga dapat listing penawaran saham dan obligasi. Caranya adalah dengan skema securities crowdfunding (SCF) yang merupakan pengembangan skema Equity Crowdfunding (ECF).
Equity crowdfunding pada dasarnya hanya menerbitkan efek berupa saham yang ditawarkan kepada investor guna pendanaan pengembangan bisnis UMKM. Sementara dalam securities crowdfunding, instrumen keuangan yang ditawarkan lebih beragam. Mulai dari saham, obligasi, hingga sukuk sehingga investor bisa diversifikasi profil risiko mereka.
LandX merupakan salah satu platform equity crowdfunding yang sedang berproses menjadi securities crowdfunding. Tentunya, platform ini telah berpengalaman melakukan crowdfunding bagi berbagai bisnis potensial di berbagai sektor industri.
Jadi, jika kamu ingin tahu lebih banyak lagi tentang keuntungan obligasi dengan skema ini, pastikan untuk berinvestasi melalui platform yang terpercaya, aman, dan pastinya mengantongi izin OJK seperti LandX ya!