7 November 2022
|
4 Min Read
|
Kenaikan harga BBM sudah terjadi tiga kali di tahun 2022. Harga BBM dari tahun ke tahun umumnya selalu naik. Lihat fakta dampak dan pengaruh harga BBM di Indonesia.
Walaupun harga mendaki, BBM tetap bikin antri.
Gimana pendapat kamu sama informasi harga bbm terkini yang sempat naik-turun? Kenaikan harga BBM sudah terjadi tiga kali di tahun 2022. Harga BBM dari tahun ke tahun umumnya selalu naik, namun pernah juga terjadi penyesuaian dengan turunnya harga BBM.
Harga BBM di Indonesia menjadi hal yang sangat penting bagi berbagai sudut aspek. Pengaruh harga BBM dapat berdampak pada inflasi dan pengeluaran masyarakat kecil yang butuh minyak goreng hingga ekonomi nasional seperti biaya impor-ekspor serta nilai tukar rupiah.
Dengan kenaikan harga BBM terbaru November ini, LandX telah merangkum fakta dibalik harga BBM 2022 mulai dari alasan harga BBM naik hingga dampak kenaikannya. Yuk simak lebih lanjut.
Dengan banyaknya penyuplai BBM di Indonesia, berfokus pada jenis bensin yang umum di telinga masyarakat Indonesia, terlihat grafik kenaikan harga bahan bakar jenis Solar, Pertaite, dan Pertamax. Benarkah selalu terjadi kenaikan?
Pada jenis Solar, harga bahan bakar diesel ini cenderung mengalami penurunan dari tahun ke tahun, hingga harga terbaru di bulan November ini sebesar Rp6.800. Sedangkan Pertalite cenderung stabil pada 2020 dan tahun selanjutnya namun, mengalami kenaikan harga yang signifikan pada tahun 2022 ini menjadi Rp10.000.
Begitu pun Pertamax, sempat mengalami penurunan harga pada tahun 2021 dari 2020 menjadi Rp9.000, masyarakat pun dikejutkan dengan kenaikan harga Pertamax yang mencapai Rp13.900. Tak sedikit masyarakat berteriak saat melihat harga yang muncul saat selesai mengisi bensin.
Kenapa harga BBM naik? Apa saja alasan kenaikan harga BBM?
Mungkin dari kamu sudah banyak yang mendengar berita maupun research kenapa harga minyak hitam ini dinaikkan. Mungkin ada juga yang masih bertanya-tanya alasan kenaikan harga BBM tahun 2022 ini. Berikut 3 alasan harga BBM naik dirangkum dari berbagai sumber:
Terlihat dari grafik Ketimpangan Supply dan Demand Indonesia, volume antara konsumsi dan produksi minyak mentah sangat jomplang setiap tahunnya. Konsumsi BBM di Indonesia bahkan hampir 2 kali lipat dari kemampuan nasional memproduksi minyak mentah. Hal inilah yang membuat Indonesia yang kaya pun harus mengimpor minyak dari negara lain.
Jumlah impor BBM Indonesia setiap tahunnya dari 2020 hingga 2022 mencapai lebih dari 30 juta ton. Angka impor minyak ini terdiri dari 20 jutaan ton minyak olahan dan lebih 10 juta ton minyak mentah.
Besaran jumlah anggaran subsidi dari Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara (APBN) terpantau selalu meningkat. Namun, diketahui Presiden Jokowi menyampaikan pada konferensi pers perihal Pengalihan Subsidi BBM di Indonesia bahwa lebih dari 70% subsidi dinikmati kelompok masyarakat yang mampu, yaitu yang memiliki mobil-mobil pribadi.
Berbagai aspek terpantau terdampak oleh kenaikan harga energi dari bahan bakar fosil ini. Mulai dari sempat terjadi lonjakan inflasi, suku bunga acuan yang ikut naik, serta tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika.
Dari olah data yang dilakukan tim LandX selama bulan Oktober, terpantau terjadi lonjakan inflasi sebesar 1,26% dari bulan Agustus ke bulan September. Tingkat inflasi bulan September yaitu 5,95%.
Begitu pun dengan suku bunga acuan yang sepanjang awal tahun hingga bulan Juli berada pada basis 3,50 hingga naik pertama kali di bulan Agustus suku bunga acuan menjadi 3,75%. Baton pun diambil bulan September dengan Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,25%.
Serta berturut-turut suku bunga acuan terbaru Oktober naik basis 50 poin menjadi 4,75% dalam pengumuman hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia bulanan.
Kenaikan harga BBM juga menjadi faktor tekanan pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika. Dari data penutupan bulan Agustus, September, dan Oktober telah terjadi penurunan nilai rupiah dari Rp14.853, Rp15.232, hingga Rp15.588. (data diakses 31 Oktober).
Kenaikan BBM yang berdampak pada mikro dan makro ekonomi ini pun turut dirasakan masyarakat seperti, kenaikan harga bahan pokok volatil yaitu minyak goreng dan bawang merah, serta terjadi penyesuaian tarif angkutan umum termasuk online.
Namun begitu, diharapkan kinerja seluruh lembaga di Indonesia mampu mengatasi berbagai kemungkinan. Karena ekonomi nasional tidak dipengaruhi oleh satu faktor saja namun kombinasi dan saling terkait.
Oleh karena itu, untuk menghadapi berbagai tantangan keuangan yang dapat disebabkan oleh kenaikan harga BBM maka mari kita bekali diri dengan meningkatkan strategi keuangan yang lebih baik dengan berhemat dan investasi cermat.