Investor Penerbit
menu-mobile

Biaya Produksi Adalah: Pengertian, Jenis dan Cara Menghitungnya

23 August 2022

|

8 Min Read

|

Author: Rafa Syawalia R
Memahami Biaya Produksi Adalah dan Cara Menghitungnya

Biaya produksi adalah biaya yang wajib dicatat dalam menulis laporan keuangan, pasalnya perhitungan biaya produksi dapat membantu perusahaan untuk menentukan harga pokok produksi.

Dalam pencatatan keuangan pada sebuah perusahaan, biaya produksi kerap kali muncul. Istilah biaya produksi sering digunakan dalam industri atau perusahaan yang bergerak dalam bidang manufaktur. Cost production atau biaya produksi adalah biaya yang wajib dicatat dalam penulisan laporan keuangan.

Biaya produksi biasanya mencakup macam-macam pengeluaran seperti gaji karyawan, bahan baku, pengeluaran rutin perusahaan, dan masih banyak lagi. Maka dari itu, diperlukan laporan biaya produksi beserta perhitungan mengenai berapa banyak biaya yang perusahaan keluarkan untuk kegiatan produksinya?

Baca artikel ini bersama-sama yuk untuk penjelasan lengkapnya mengenai biaya produksi serta cara menghitung biaya produksi.

Pengertian Biaya Produksi

Apa yang dimaksud dengan biaya produksi? Biaya produksi adalah akumulasi pengeluaran yang diperlukan dalam kegiatan produksi perusahaan untuk menyediakan pelayanan dan memproses bahan baku sampai menjadi suatu produk yang siap dipasarkan atau akan diolah kembali.

Dikutip dari laman Investopedia, pengertian biaya produksi adalah mengacu pada biaya langsung dan tidak langsung yang dihadapi oleh perusahaan untuk pembuatan suatu produk atau penyediaan pelayanan.

Unsur-unsur yang berada dalam biaya produksi adalah biaya yang mencakup tenaga kerja, bahan baku, overhead, dan lain-lain. Unsur biaya produksi misalnya pada overhead merupakan kumpulan biaya komponen dalam perusahaan. Biaya-biaya tersebut mencakup biaya sewa atau pemeliharaan tempat usaha, peralatan kantor, tenaga kerja non produksi, asuransi perusahaan, utilitas dan masih banyak lagi.

Sedangkan untuk bahan baku merupakan bahan dengan bentuk fisik yang akan diproses dan menjadi produk dengan memiliki nilai ekonomis, biasanya bisa jadi dalam bentuk produk jadi atau produk setengah jadi tergantung pada perusahaan. Sementara itu, para tenaga pekerja yang berada proses produksi akan mendapatkan upah dalam memproses produk.

Maka dari itu perhitungan biaya produksi terbilang cukup kompleks, dikarenakan banyak sekali perhitungan dan komponen dalam kegiatan produksi yang perlu dicatat. Dengan perhitungan biaya produksi ini, perusahaan akan lebih jelas menampilkan laba dan kerugian pada proses produksi.

Cara menghitung biaya produksi adalah dengan menghitungkan total biaya yang dikeluarkan suatu perusahaan untuk proses produksi. Setelah perhitungan tersebut, perusahaan dapat membaginya dengan output secara total yang dihasilkan dari biaya produksi dan menetapkan harga beserta margin labanya.

Tujuan Pencatatan Biaya Produksi

Setiap perusahaan sering melakukan perhitungan biaya produksi dengan “pos produksi” untuk memperkirakan berapa banyak dana digunakan pada proses produksi. Tujuan pencatatan biaya produksi yang dilakukan akuntan perusahaan adalah untuk mengetahui jumlah biaya yang muncul selama proses produksi.

Ketika laporan tersebut diberikan kepada manajer perusahaan maka perusahaan dapat mengevaluasi kembali dari hasil laporan biaya produksi untuk mengoptimalkan proses produksi, membuat strategi baru dan membuat keputusan.

Dengan demikian, para akuntan akan mempertimbangkan biaya pada unit tersebut dan menentukan harga untuk produk yang akan dijual. Jika harga produk sama atau lebih mahal dari harga jual, maka perusahaan menanggung risiko operasi yang merugi.

Maka dari itu, tujuan biaya produksi adalah:

  • Menghitung atau mengukur profitabilitas dari keuntungan produk yang dijual dan menentukan analisis komparatif biaya pada proses produksi.
  • Mengontrolkan biaya produksi dengan melakukan pencatatan, menyimpan transaksi, dan bisa menentukan harga pokok serta harga jual.
  • Perusahaan bisa menentukan perencanaan bisnis, misalnya pencatatan aset perusahaan untuk mempermudah pengontrolan aset.
  • Dengan perhitungan dan perencanaan bisnis, perusahaan dapat mengambil keputusan jangka pendek seperti pembelian bahan baku, pembaruan aset, pembelian alat, dan menentukan harga jual barang jadi. 

Jenis-jenis Biaya Produksi

Dalam perusahaan, terdapat berbagai jenis biaya produksi yang dihadapi pelaku bisnis ketika memproduksi barang atau jasanya. Maka dari itu jenis biaya produksi adalah sebagai berikut:

1. Fixed Cost

Fixed cost atau biaya tetap adalah biaya sudah ditetapkan pada periode tertentu dengan jumlah yang sama dan tidak terpengaruh pada hasil produksi perusahaan. Contoh biaya tetap adalah sewa pabrik atau bulanan karyawan. Maka dari itu, biaya tetap tidak akan mengalami pembengkakan dan nominalnya relatif stabil meskipun kegiatan produksi mengalami penurunan, atau peningkatan sekaligus.

2. Biaya Marginal

Marginal cost atau biaya marginal adalah biaya tambahan untuk menghasilkan jumlah barang produksi. Jenis biaya ini merupakan biaya yang dikeluarkan perusahaan dengan tujuan meningkatkan produksi dan memprediksi jumlah output yang didapat selama proses produksi berlangsung.

Kalkulasi biaya marginal dihitung dengan menambahkan biaya variabel dengan biaya marginal saat hendak memproduksi output tambahan.

3. Variable Cost

Variable cost atau biaya variabel adalah biaya yang besarnya dapat berubah-ubah, tergantung dengan hasil produksi perusahaan. Secara sederhana, ketika jumlah produksi mengalami peningkatan, maka biaya variabel pun akan mengikuti peningkatan tersebut, begitupun ketika jumlah produksi menurun. 

4. Biaya Rata-rata

Biaya rata-rata atau average cost adalah jumlah biaya produksi per unitnya yang sudah dihitung dan telah menjadi produk. Biaya rata-rata merupakan pembagian total pengeluaran proses produksi, serta besaran hasil produksi untuk mendapatkan harga per satuan produk. Dengan adanya biaya rata-rata, perusahaan dapat menentukan persentase laba.

5. Biaya Total

Pada biaya total merupakan biaya produksi dari penjumlahan biaya variabel dan total seluruh biaya tetap yang digunakan untuk menghasilkan produk dalam kurun waktu yang ditentukan. 

Setelah melakukan proses suatu produk, nantinya seorang akuntan perusahaan akan memperhitungkan biaya total dilakukan ketika produksi barang selesai. Hasil akhir tersebut merupakan total modal dan dana yang dikeluarkan perusahaan selama proses produksi dan akan dievaluasi sebagai pertimbangan harga jual produk.

Faktor yang Mempengaruhi Biaya Produksi

Jika secara spesifik faktor yang mempengaruhi biaya produksi cukup banyak, diantaranya adalah:

1. Demand (Permintaan)

Jika suatu produk yang dihasilkan suatu perusahaan mencapai kesuksesan yang diharapkan perusahaan, maka permintaan produknya akan juga meningkat. Sebagai pemenuhan permintaan konsumen, perusahaan kemungkinan akan mengambil langkah dengan membeli lebih banyak persediaan bahan baku, selain itu juga perusahaan akan membutuhkan sumber daya manusia untuk pekerja baru, menambahkan fasilitas produksi atau membuka lokasi produksi di tempat lain.

Dengan profit dari meningkatnya permintaan produksi, perusahaan dapat menggunakan keuntungan yang diperoleh dari konsumen baru untuk pertimabangan peningkatkan biaya produksi. 

2. Teknologi

Berkembangnya teknologi dapat membantu proses produksi dengan lebih cepat dan akurat yang dilakukan mesin. Mesin ini atau beberapa alat pendukung lainnya ini adalah aset perusahaan yang akan mengalami depresiasi.  Sudah banyak beberapa perusahaan yang menggunakan mesin untuk kegiatan manufaktur daripada tenaga kerja manusia, sehingga pengeluaran biaya tetap tidak begitu banyak.

Selain itu, adanya pembaruan yang dilakukan perusahaan dengan menambah teknologi informasi pada sistem komputer, dan mengadakan pelatihan untuk calon pekerja mengenai penggunaan sistem digital pada perusahaan yang bertujuan mempercepat proses produksi dan dapat menurunkan biaya produksi.

3. Suku Bunga

Pada beberapa perusahaan, ketika proses produksi mengeluarkan biaya tidak langsung beberapa perusahaan akan meminjam dana dari bank maupun lembaga keuangan lain. Jika ada kenaikan pada suku bunga, maka jumlah pinjaman yang harus dibayar juga akan semakin tinggi. 

Suku bunga yang dipakai sebagai pinjaman perusahaan memiliki nilai yang naik atau turun. Maka dari itu, perusahaan perlu memperhitungkan fluktuasi suku bunga ketika melakukan pencatatan laporan keuangan dengan akurat. 

4. Kurs

Kurs akan mempengaruhi biaya produksi pada perusahaan karena jika sebuah perusahaan melakukan impor bahan material dari luar negeri ketika kurs sedang turun, maka perusahaan dapat membuat produknya murah. Begitupun sebaliknya, ketika kurs sedang naik, maka biaya produksi yang dikeluarkan pun akan meningkat. 

5. Pajak

Pada biaya produksi tidak langsung, pajak merupakan salah satu komponen pada biaya overhead perusahaan. Tinggi rendahnya tarif pajak yang dikenakan pada perusahaan tergantung pada kebijakan pemerintah atau faktor lainnya. Misalnya, jika ada perusahaan yang mempekerjakan karyawan barunya, menambah beberapa produksi asuransi, dan lain-lainnya dapat meningkatkan pengeluaran biaya produksi. 

6. Biaya Material

Biaya material diperlukan oleh perusahaan. Untuk pembuatan produk tersebut, biaya material dapat naik turun dipengaruhi oleh waktu, kegiatan ekonomi pada negara, dan keterbatasan persediaan yang ada. Misalnya, ketika harga cabai mengalami kenaikan harga, disebabkan petani cabai gagal panen karena kondisi cuaca yang buruk. Hal tersebut dapat memengaruhi beberapa perusahaan yang membutuhkan cabai dan akan mengeluarkan biaya produksi lebih tinggi karena adanya kenaikan harga.

Cara Menghitung Biaya Produksi

Formulasi untuk menghitung biaya produksi terdiri dari beberapa tahapan, pada tahapan pertama perhitungan bahan baku dengan rumus:

Bahan Baku yang dipakai = Saldo awal + Pembelian Bahan - Saldo Akhir

Kemudian tahapan kedua adalah perhitungan biaya produksi dengan rumus:

Total biaya produksi = Bahan baku yang digunakan + Biaya tenaga kerja + Overhead produksi

Selanjutnya, perhitungan harga pokok produksi dengan rumus:

Harga pokok produksi = total biaya produksi + Saldo awal persedian barang dalam masa produksi - saldo akhir persediaan barang dalam proses produksi

Tahap terakhir adalah menghitung HPP dengan rumus:

HPP = harga pokok produksi + persediaan barang awal - persediaan barang akhir

Dalam penerapan tahapan perhitungan biaya di atas, akan diterapkan menjadi contoh kasus, supaya kamu dapat memahaminya lebih baik. Contoh menghitung biaya produksi:

Diketahui, sebuah perusahaan C memiliki laporan keuangan biaya produksi pada bulan Agustus tahun 2022, biaya persedian bahan baku mentah untuk produksi sebesar Rp80.000.000 dan bahan persediaan bahan setengah jadi sebesar Rp55.000.000. Untuk memperlancar produksi, perusahaan tersebut menggunakan 12 tenaga kerja dengan upah Rp6.000.000 tiap orangnya. Masih dengan waktu yang sama, perusahaan memiliki stok produknya yang akan dijual dengan harga Rp20.000.000. 

Untuk proses produksi, perusahaan C membeli persediaan bahan baku mentah sebesar Rp100.000.000 yang dikenai biaya pengiriman senilai Rp2.000.000. Selama proses produksi, perusahaan C mengeluarkan biaya perawatan mesin dengan jumlah Rp20.000.000. 

Pada akhir bulan Agustus, sisah bahan baku perusahaan C senilai Rp10.000.000 dan sisah bahan setengah jadi senilai Rp7.000.000. Stok sisa produk yang akan siap dijual tersisa Rp5.000.000.

Hitung biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan C!

Keterangan: 

menghitung biaya produksi

Perhitungan biaya produksi:

contoh soal biaya produksi

Maka diketahui bahwa harga pokok produksi perusahaan C adalah sebesar Rp327.000.000

Kesimpulan

Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk memulai membuat produk, proses pengelolaan bahan mentah sampai menjadi setengah jadi atau barang jadi. Dengan mengetahui biaya produksi, perusahaan perlu memiliki akuntan atau seorang ahli pencatatan laporan keuangan untuk menghitung harga pokok produksi dengan tepat.

Dengan adanya pencatatan ini supaya perusahaan dapat menentukan laba rugi selama proses produksi diketahui. Adanya laporan biaya produksi juga dapat menjadi acuan perusahaan untuk menganalisis laporan keuangannya.

Memiliki bisnis tentunya diperlukan pencatatan laporan yang tepat supaya estimasi laba dan rugi perusahaan dapat diketahui dengan jelas. Tetapi selain itu, kamu bisa juga loh miliki bisnis potensial tanpa ribet mengurusi laporan keuangan, operasional bisnis, dan semacamnya. Bagaimana tuh?

Melalui sistem equity crowdfunding, kamu bersama masyarakat luas mendanai bisnis kecil seperti UKM dengan modal Rp1 juta. Dengan skema ini, kamu bisa menjadi pemilik saham bisnis yang kamu danai. Bisnis yang kamu danai pun dapat berkembang dan melakukan ekspansi, sehingga kamu akan mendapatkan keuntungan berupa dividen sesuai performa bisnis tadi.

LandX merupakan platform equity crowdfunding yang berpengalaman mendanai bisnis-bisnis dengan prospek bagus dan memiliki potensi yang besar, kegiatan patungan bisnis pun aman karena sudah mendapatkan izin dari Otoritas Jasa Keuangan.

Tunggu apalagi?

Jadi Bos Bisnis Potensial lewat LandX Sekarang Juga!

miliki bisnis modal kecil cuma dengan 1 jutaan dapat 4 cabang

Baca Juga